Namce8081’s Weblog

Media Komunikasi, Informasi dan Berekspresi Alumni SMA 6 Yogyakarta Tahun 80-81 serta interaksi dg angkatan lain dan almamater

Nyamplung, Energi Alternatif

Ditulis oleh namce8081 di/pada Maret 4, 2008

KR 03/03/2008 08:24:25

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=154605&actmenu=35

INDONESIA memiliki keanekaragaman hayati dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satu dari flora yang hidup dan banyak ditemui di Indonesia adalah Nyamplung (Callophylum inaphylum) atau yang biasa di sebut Bintagur. Tanaman yang tumbuh subur di hutan tropis Indonesia selain nilainya sama dengan Meranti juga biasa dimanfaatkan sebagai kayu pertukangan. Sayangnya selama ini masih banyak yang belum menyadari biji nyamplung yang sudah tua ternyata memiliki kandungan minyak cukup tinggi. Dugaan itu semakin tampak jelas, karena setelah buah nyamplung disulut dengan api, tidak segera habis, namun dapat mempertahankan nyala api dalam jangka waktu yang lama.
”Akhir-akhir ini pemerintah melalui Kementrian Riset dan Teknologi mulai mengembangkan bahan bakar pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari tumbuhan. Terbatasnya persediaan dan kelangkaan minyak tanah diberbagai daerah menjadikan kami termotivasi untuk meneliti biji nyamplung. Tapi kami tidak pernah menyangka penelitian yang berjudul ‘Potensi Biji Nyamplung ditinjau dari segi ekonomis dan ekologis’ terpilih sebagai juara 1 Nasional Wisata Iptek tahun 2007,” jelas Aditya Prabhaswara dan Fathkur Rahman siswa kelas XII SMAN 6 Yogyakarta kepada KR
Menurut Aditya, selama ini pemanfaatan tumbuhan nyamplung lebih dominan pada kayu. Padahal jika dikelola dengam baik biji nyamplung yang sudah tua dapat mendatangkan nilai ekonomis (sebagai bahan bakar pengganti minyak) yang tidak menyebabkan polusi (jelaga), jadi sangat baik untuk kelestarian lingkungan. Pasalnya, berdasar penelitian yang dilakukan untuk setiap 1 Kg biji nyamplung yang sudah tua bisa menghasilkan 0,5 liter minyak. ”Dari penelitian yang kami lakukan 3 mililiter minyak tanah bisa digunakan selama 7 menit, sedangkan 3 mililiter minyak nyamplung bisa tahan sampai 13 menit. Dari perbandingan itu bisa dilihat bahwa minyak nyamplung lebih irit 75 persen dari minyak tanah. Tentunya tanpa perlu khawatir mengganggu ekologi karena tidak menimbulkan jelaga,” papar Adit.
Fathkur menambahkan, jika pengolahan biji nyamplung menjadi minyak dikembangkan bisa mendatangkan banyak keuntungan. Kelebihan minyak biji nyamplung selain hemat dalam proses pembakaran dan sumbernya dapat diperbaharui. Tumbuhannya tidak memerlukan perawatan khusus karena termasuk tumbuhan tropis.
Waktu ujian nasional (Unas) yang sudah semakin dekat menjadikan Aditya dan Fathkur lebih selektif dalam membagi waktu. Bahkan pada saat mendapatkan informasi tentang hasil perlombaan, mereka berdua sempat ragu-ragu untuk berangkat ke Jakarta. Mengingat pada hari yang sama mereka harus mengikuti latihan ujian yang diadakan oleh MKKS Kota Yogyakarta.
”Untungnya sekolah memberikan dispensasi pada kami untuk mengikuti ujian susulan, sehingga pada 28 Januari kemarin bisa tetap berangkat ke Jakarta,” jelas Adit. (R-5)-f

Tinggalkan Balasan

XHTML: kamu dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>