(Fair Play) Bermain Sungguh-sungguh dan Dapat Dipercaya
Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 17, 2008
Euro 2008 dapat dijadikan salah satu contoh yang baik bagaimana Fair Play di terapkan dalam pertandingan sepak bola. Dengan penerapan Fair Play kita semua melihat pertandingan yang baik, menyenangkan dan memuaskan.
Kesungguhan dalam bertanding dan dapat dipercaya adalah hal-hal yang penting dalam Fair Play.
Pada kesempatan Euro 2008, kita dapat melihat bagaimana Fair Play diperlihatkan oleh para Pemain dengan “Dua Hati”, yang kami kutip dari Koran Tempo, Senin, 16 Juni 2008.
Lukas Podolski
Podolski adalah pemain penyerang Jerman keturunan Polandia. Pada umur dua tahun, ia dibawa oleh orang tuanya bermigrasi ke Jerman.
Pada pertandingan perdana Grup B, Jerman vs Polandia, ia mencetak dua gol ke gawang Polandia. Satu hatinya yang berada di Polandia menyebabkab ia hanya muram tanpa senyum dan menundukkan wajah setelah mencetak gol. “Keluarga besr saya di Polandia. Saya memiliki kedekatan emosional dengan Polandia,” kata Podolski.
Hakan Yakin
Yakin adalah pemain Swiss. Dia memegang paspor Swiss karena keturunan.
Yakin mencetak gol ke gawang Turki tanpa meluapkan kegembiraan. Sebaliknya, ketika gagal mencetak gol ketika mendapat peluang emas, Yakin tidak menunjukkan kekecewaan yang berlebihan. “Itu normal bila keluarga Anda, ibu Anda, dan teman-teman dekat Anda tinggal di Turki,” kata Yakin. “Di dalam kepala, saya merayakan selebrasi bersama Swiss, tapi saya tak mau menunjukkannya. Itu cukup adil untuk menghormai Turki, negara yang menjadi bagian dari diri saya.”
———-
Contoh dari kedua pemain tersebut menunjukkan bagaimana kesungguhan mereka bermain dan dapat dipercaya. Dua hal yang penting dalam Fair Play.
Salam,
Wahyu Budi Setyawan
