Trofi Fairplay

FIFA memberika  Trofi Fairplay kepada mendiang Sir Bobby Robson. Alasan pemberiannya adalah: “Sir Bobby merupakan sosok pria jujur dan bertanggung jawab, sepanjang kariernya, baik sebagai pemain maupun pelatih. Kolega, lawan, dan penggemar sepak bola seluruh dunia menghormati dan mengaggumi Sir Bobby. yang konsisten mengamalkan nilai-nilai fairplay. Selain itu, tentu saja, Sir Bobby juga dihormati karena prestasinya.”

Siapa Sir Bobby Robson?

Kala aktif masih menjadi pemain, Robson pernah memperkuat tim nasional Inggris sebanyak 20 kali dan tampil pada Piala Dunia 1958 dan 1962.

Sebagai pelatih, Robson juga pernah menangani sejumlah klub elite Eropa, seperti PSV Eindhoven, Sporting Lisbon, Porto, dan Barcelona. Salah satu prestasi gemilangnya sebagai pelatih adalah kesuksesannya mengantar skuad “Three Lions” lolos ke semifinal Piala Dunia 1990.

Bobby Robson dianugerahi gelar bangsawan pada 2002.

Lalu, apa itu nilai-nilai Fairplay?

Bila ingin tahu lebih jauh tentang Fairplay, silahkan klik ke berbagai tulisan tentang fairplay yang berada di dalam Kategori Falsafah Olahraga di dalam Blog ini.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Sumber:

http://bola.kompas.com/read/xml/2009/07/31/16394371/bobby.robson.meninggal.dunia

http://bola.kompas.com/read/xml/2009/12/22/04544780/trofi.fairplay.buat.mendiang.sir.bobby.robson.

Pelajaran dari Piala Konfederasi 2009: Bola bundar, optimis

Berikut ini adalah kisah tentang “Bola bundar”, kisah tentang optimisme. Dalam pertandingan olahraga bukan matematika yang menentukan kemenangannya, tetapi yang terbaik saat bertandinglah yang akan menang. Itulah yang dapat kita pelajari dari kisah kemenangan Amerika Serikat atas Spanyol dalam semifinal Piala Konfederasi 2009 yang lalu.

Inilah kisah itu. Semoga bermanfaat.

Optimisme itu kiranya juga mewarnai kesebelasan sepakbola Amerika dalam Kejuaraan Piala Konfederasi. Di awal pertandingan mereka kalah 3-1 dari Italia, dan 3-0 dari Brazil; tetapi kemudian bangkit mengalahkan Mesir 3-0, dan Spanyol 2-0. Dengan mengalahkan Spanyol, Amerika maju ke final melawan Brazil.

Dalam dunia politik dan ekonomi, Amerika Serikat memang negara superpower. tetapi, dalam dunia sepak bola, Amerika adalah negara berkembang, sedang Spanyol adalah negara superpower.  Oleh karena itu adalah sebuah sensasi yang besar bila Amerika mengalahkan Spanyol.

Di dalam dunia sepakbola, Spanyol memang layak diberi gelar sebagai superpower. Dalam tiga tahun terakhir, hanya sekali Spanyol dikalahkan Romanis pada 16 Nopember 2006. Setelah itu, dalam 35 pertandingan mereka tidak pernah kalah. Menjelah Piala Konfederasi 2009 ini, 15 kali berturut-turut mereka menang. Kata penyerang Spanyol, Fernando Torres, “Kemenangan berturut-turut itu bukan hanya karena kami bermain dengan baik, tetapi lebih karena secara manusiawi kesebelasan kami luar biasa harminis. Kami saling mengenal satu sama lain sejak kami bermain dalam tim yunior.”

Dengan modal kemenangan yang demikian meyakminkan, ditambah dengan spirit kebersamaan yang demikian kental, Spanyol merasa pasti, mereka akan sampai ke final. “Kami akan menulis sejarah,” kata Torres menjelang pertandingan melawan Amerika Serikat. “Kami harus serius menghadapi Amerika walau terus terang kami sudah bermimpi akan bertemu dengan Brazil di final,” kata pelatih Vicente del Bosque.

Namun apa yang terjadi? Bukan Amerika Serikat yang dikalahkan oleh Spanyol, tetapi sebaliknya, Spanyol dikalahkan oleh Amerika Serikat.

Kemenangan Amerika Serikat atas Spanyol itu memang suatu keajaiban, namun, seperti diakui pelatih Jerman, Joachim Low, kemenangan itu juga disebabkan mereka mempunyai organisasi permainan yang amat rapi dan efektif, serta mereka mempunyai semangat juang yang gigih. Dan, khas bagi orang Amerika, di balik semangat juang itu adalah rasa optimis yang luar biasa.

————–

Sumber:

Ditulis ulang dari Catatan Sepak Bola berjudul “Optimisme Yes We Can” oleh Sindhunata. Kompas, 28 Juni 2009, hal 8.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Sportmanship: Insiden Steven Gerrard

Berikut ini adalah suatu contoh kasus tentang bagaimana sportmanship ditegakkan. Coba kita bandingkan dengan apa yang terjadi selama ini dengan berbagai pertandingan sepakbola yang terjadi di tanah air kita tercinta ini yang sering diwarnai dengan kekerasan, baik oleh pemain, supporter, wasit maupun ofisial.

Semoga bermanfaat.

Salam

Wahyu Budi Setyawan

————-

Insiden ini terjadi ketika duel penyisihan grup Liga Champion di Stadion Liverpool antara Liverpool lawan Marseille pada tanggal 26 Nopember 2008.

Ketika pertandingan berlangsung, sebuah korek api gas yang terbuat dari logam dilemparkan oleh seorang supporter Marseille ke arah kapten Loverpool, Steven Gerrard, dan mengenai dadanya ketika ia hendak melakukan tendangan sudut menjelang akhir babak pertama setelah mencetak gol di menit ke 23. Gol itu adalah satu-satunya gol kemenangan yang meloloskan Liverpool ke per-delapan final.

Wakil UEFA dalam pertandingan itu, Sven Johannessen, berjanji mengumpulkan seluruh bukti, termasuk laporan wasit Olegario Benquerenca. Polisi juga bertekad mengusut insiden itu.

Terkait dengan insiden itu, Liverpool dipastikan terhindar dari hukuman karena para supporternya tidak bereaksi negatif. Sementara itu, pelatih Liverpool, Rafael Benitez, memuji sikap Gerrard dalam menghadapi penzaliman terhadap dirinya itu. “Gerrard bersikap sangat baik dalam insiden itu, mungkin wakil UEFA akan mencatatnya. Gerrard tak membalas perlakuan itu dengan sikap apa pun,” kata Benitez.

Bagaimana akhir dari insiden ini?

Pada hari jum’at 12 Nopember 2008, UEFA mengeluarkan keputusan tentang insiden itu. Marseille didenda sebesar 10.000 euro karena pendukungnya melemparkan benda berbahaya ke lapangan Liverpool ketika berlangsung pertandingan Liga Champions pada tanggal 26 Nopember 2008 itu.

(Diolah dari Sumber: Warta Kota, Jum’at 28 Nopember 2008; Republika Online, Sabtu 13 Desember 2008).

Sportsmanship

Sportsmanship adalah moral dalam olahraga. Keating (1964) menyebutkan bahwa sportsmanship adalah bertingkah laku sebagai seorang sportsman, sedang sportsman adalah orang yang tertarik atau terlibat dalam kegiatan sport (baca: olahraga). Pada tahun 1926, National Sportsmanship Brotherhood di Amerika Serikat diorganisir untuk menyebarkan ajaran sportsmanship ke seluruh aspek kehidupan, dari pertandingan anak-anak sampai internasional. Ajaran itu terdiri dari delapan aturan sebagai berikut:

1)      Patuhi peraturan,

2)      Percayai teman anda,

3)      Peliharalah kebugaran anda,

4)      Kendalikan kemarahan anda,

5)      Peliharalah permainan anda tetap bebas dari kebrutalan,

6)      Kendalikan kebanggaan anda bila menang,

7)      Tetap gagah bila kalah,

8)      Peliharlah jiwa yang sehat dan pikiran yang jernih di dalam tubuh yang sehat.

Selogan yang diadopsi adalah “Not that you won or lost – but how you played the game” yang dapat diterjemahkan kira-kira “Bukan menang atau kalah – tetapi bagaimana anda menjalani pertandingan.”

Menurut National Fedetarion of State High School Association di Amerika Serikat, sportsmanship yang baik adalah komitmen untuk fair play, tingkah laku yang etis dan integritas (WCPSS, 2008). Selanjutnya, dalam pemahaman dan praktek, sportsmanship didefinisikan sebagai kualitas yang dicirikan oleh kebaikan hati dan ketulusan terhadap orang lain dengan cara:

  1. Bermain dengan mengikuti peraturan, terima kekalahan atau kegagalan tanpa protes, atau kemenangan tanpa kegembiraan berlebihan;
  2. Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan;
  3. Hargai orang lain dan diri sendiri;
  4. Kuatkan kontrol diri, tetap sopan, dan menerima dengan hormat hasil dari aksi orang lain;
  5. Tunjukkan sikap yang etis dengan tetap baik (karakter) dan berlaku benar (aksi);
  6. Jadilah warga yang baik.

Selanjutnya di dalam Wikipedia (2007) disebutkan bahwa sportsmanship adalah menyesuaikan diri dengan peraturan, semangat dan etika sport (baca: olahraga). Kemudian dijelaskan, menurut Shield & Bredemeier tahun 1995, sportsmanship secara khusus dipandang sebagai komponen moral dalam olahraga yang tersusun dari tiga konsep yang berkaitan dan mungkin saling tumpang tindih, yaitu fair play, sportsmanship dan karakter.

Fair play mengacu kepada seluruh partisipan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kemenangan, dan bertindak terhadap ortang lain dengan kejujuran, berterusterang, dan bersikap gagah dan bermartabat meskipun ketika orang lain tidak mengikuti peraturan. Hal ini meliputi penghargaan terhadap orang lain termasuk anggota tim, lawan dan para ofisial.

Karakter mengacu kepada watak, nilai-nilai, dan kebiasaan yang menentukan cara seseorang biasanya merespon keinginan, ketakutan, tantangan, kesempatan dan kegagalan, dan secara khusus terlihat dalam tingkah laku yang sopan terhadap orang lain seperti membantu lawan berdiri, atau bersalaman setelah pertandingan berakhir. Seseorang dipandang memiliki “karakter yang baik” bila watak dan kebiasaannya mencerminkan nilai-nilai etika utama.

Sportsmanship dapat dikategorikan sebagai suatu karakter atau watak yang tetap dan relatif stabil sedemikian rupa sehingga individu-individu berbeda dalam cara mereka diharapkan bertingkah laku dalam situasi olahraga. Secara umum, sportsmanship mengacu pada kebaikan seperti kejujuran (fairness), kontrol diri, keteguhan hati, dan kegigihan, dan diasosiasikan dengan konsep-konsep interpersonal seperti memperlakukan orang lain dan diri sendiri dengan fair, mempertahankan kontrol diri ketika berurusan dengan orang lain, dan menghargai pihak berwenang dan lawan. Kemudian dijelaskan bahwa Vallerand et al tahun 1996 dan 1997 telah mengidentifikasi lima aspek dari sportsmanship, yaitu:

  1. Komitmen yang penuh untuk berpartisipasi (seperti: tampil, bekerja keras selama latihan dan pertandingan, mengakui kesalahan dan mencoba memperbaiki);
  2. Menghargai dan memperhatikan peraturan-peraturan dan ofisial;
  3. Menghargai dan memperhatikan adat kebiasaan sosial (seperti: berjabat tangan, mengakui penampilan lawan yang baik);
  4. Menghargai dan memperhatikan lawan (seperti: meminjamkan perlengkapan kapada lawan, sepakat bermain meskipun lawan datang terlambat, tidak mengambil keuntungan dari lawan yang cedera);
  5. Menghindari sikap yang buruk terhadap partisipan (seperti: tidak memakai pendekatan “menang bagaimanapun caranya”, tidak memperlihatkan kemarahan terhadap suatu kesalahan, dan tidak bermain sendiri untuk menunjukkan diri)

Poor Sportsmanship

Bila seseorang yang bertanding dan memperlihatkan “poor sportsmanship” (sportsmanship yang buruk) setelah kekalahan dalam suatu pertandingan, disebut sebagai “sore loser”. Sikap dari sportsmanship yang buruk meliputi bereaksi tidak dewasa atau tidak pantas, membuat alasan untuk kekalahannya, mengacu pada kondisi-kondisi buruk dan isu-isu remeh yang lain.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan


Pelajaran dari Sepak Bola (1)

Saat ini, kejuaraan sepak bola EURO 2008 baru beberapa hari dimulai. Di Indonesia, banyak penggemar sepak bola yang rela merubah pola tidurnya untuk dapat menyaksikan pertandingan kesebelasan yang dijagokannya. Bahkan ada menteri yang relatidur di depan TV (Menteri Negara BUMN, Sofyan Jalil – Koran Tempo, 10 Juni 2008).

Tetapi, apa pelajaran yang dapat kita petik dari menonton Sepak Bola?

Pada kesempatan ini, kami mencoba memberikan gambran tentang hal-hal apa yang dapat dipelajari dari sepak bola sebagaimana disampaikan oleh Orhan Pamuk. Orhan Pamuk adalah sastrawan Turki yang peraih Hadiah Nobel Bidang Sastra pada 12 Oktober 2006.

Berikut ini adalah kutipan apa yang dikatakan Pamuk tentang sepak bola yang kami kutip dari Koran Tempo, Rabu, 11 Juni 2008, Hal. B7.

Semoga bermanfaat.

Wahyu Budi Setyawan

——————————-

Menurut Pamuk, banyak hal yang bisa dipelajari dari sepak bola, misalnya soal penghormatan yang sama terhadap pemain berwarna kulit berbeda. “Sepak bola juga mengajari kita bahwa sebuah tim yang memiliki pemain lebih lemah bisa sukses.”

Dia juga menyanggah perkataan Albert Camus, bahwa sepak bola mengajarinya soal moralitas dan kewajiban. “Sekarang itu terdengar naif. Moralitas mugkin hal terakhir yang bisa dipelajari dari sepak bola masa kini,” katanya.

Pamuk melihat sebuah wajah negatif dalam sepak bola Turki saat ini. “Diktator Portugal, Salazar, pernah memerintahkan bantuan sepak bola yang jadi opium bagi rakyat negeri itu. Di Turki, sepak bola menjadi mesin produksi nesionalisme, ketakutan pada hal asing, serta pemikiran otoriter.”