Euro 2008 ini ternyata memberikan banyak pelajaran bagi kita yang mau mengambil pelajaran dari pertandingan-pertandingan yang telah berlangsung.
Pada kesempatan ini kami mencoba mencatat apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari dua pertandingan dari Turki, yaitu pertandingan Turki vs Cek ketika menentukan kesebelasan yang akan masuk ke perempat final, dan pertandingan Turki vs Kroasia ketika penentuan kesebelasan yang akan masuk ke semi final.
Turki vs Cek
Sampai pada menit ke-74 di babak ke dua, Cek unggul atas Turki 2 – 0. Tetapi setelah itu, keadaan berbalik berubah. Pada menit ke-75, Turki menyarangkan gol balasan sehingga kedudukan menjadi 2 – 1. Kedudukan itu bertahan sampai menit ke-86. Selanjutnya, kondisi berubah sangat dramatis. Pada menit ke-87 dan ke-89 Turki mampu menyarangkan dua gol lagi sehingga keadaan menjadi 3 – 2 untuk kemenangan Turki, dan Cek tersingkir.
Gol Turki pada menit ke-87 itu terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh kiper Cek, Petr Cech. Kiper yang saat ini dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di dunia itu gagal menangkap bola. Ia kehilangan kontrol atas bola, bola terlepas dari tangannya dan jatuh di depan penyerang Turki yang langsung menyarangkan ke dalam gawang Cek.
Selanjutnya, ketika para pemain Cek belum pulih dari rasa terkejut, kapten kesebelasan Turki berhasil lolos dari perangkap offside dan menciptakan gol ke-3. Diakui oleh kiper Petr Cech bahwa gol yang terakhir ini adalah konsekuensi dari gol sebelumnya. “Kesalahan saya membuat shock semua orang,” ujarnya.
Diakui pula bahwa blunder Petr Cech memang sulit diterima, manum juga diakui bahwa kesalahan bukan sepenuhnya pada kiper itu. Diakui bahwa kebangkitan Turki tak lepas dari perubahan pola permainan kesebelasan Cek. Setelah unggul dua gol, kesebelasan Cek berhenti menyerang dan menjadi sangat bertahan.
“Saya belum pernah melihat tim yang permainan berubah drastis antara bbak pertama dan kedua,” ujar Ivo Viktor, kiper Cekoslowakia di Piala Eropa 1976. “Kami berhenti menekan dan memilih mundur ke belakang,” ujar mantan Pelatih Spartak Praha, Jaroslav Hrebik.
Turki vs Kroasia
Sampai berakhirnya waktu pertandingan 90 menit, kedudukan skor masih 0 – 0. Keadaan itu terus bertahan sampai babak pertama perpanjangan waktu berakhir dan berlanjut sampai 2 menit berakhirnya babak kedua perpanjangan waktu.
Pada menit ke-119, Kroasia merubah keadaan menjadi 1 – 0 untuk Kroasia, setelah Kroasia mencetak gol terlebih dahulu lewat pemain pengganti Ivan Klasnic di menit ke-119. Gol ini terjadi akibat kecerobohan Rustu, kiper Turki, meninggalkan gawangnya.
Tapi lagi-lagi Turki memperlihatkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang pantang menyerah. Hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, Semih Senturk berhasil membalas. Senturk berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Pletikosa.
Kedudukan berimbang 1- 1 setelah babak perpanjangan waktu akhrnya dilanjutkan dengan abu tendangan pinalti.
Gol balasan dari Turki ternyata itu meruntuhkan mental pemain Kroasia yang sudah sempat merasa menjadi pemenang. Hal itu terlihat ketika adu penalti, Kroasia hanya mampu mencetak gol melalui Dario Srna, sedangkan Luka Modric, Daniel Rakitic, dan Mladen Petric semuanya gagal.
Sementara, tiga penendang Turki Arda Turan, Semih Senturk, dan Hamit Altintop berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dan, kiper veteran Rustu Recber yang menjaga gawang Turki mampu menepis eksekusi Mladen Petric. Keberhasilan Rustu menggagalkan penalti Petric memastikan Turki lolos ke semi final.
Hasil pertandingan ini membuktikan semangat pantang menyerah Turki.
Fatih Terim magic touch continues…begitu kata-kata komentator dalam bahasa Inggris mengomentari keberhasilan Turki lolos ke semifinal setelah mengalahkan Kroasia lewat drama adu penalti.
——————————
Hasil-hasil prtandingan itu menunjukkan bahwa wajar jika Turki kemudian disebut sebagai The King of Comeback. “Tim kami memang belum sempurna. Tapi, sekali lagi kami bisa menunjukkan kemampuan bangkit dan berada di jalur yang tepat,” kata pemain Turki, Hamit Altintop.
“Ini untuk ketiga kalinya kami mampu bangkit dari ketertinggalan untuk kemudian memenangkan pertandingan. Jika kami mampu bermain seperti ini, maka segalanya menjadi mungkin buat kami,” tambah Altintop percaya diri.
Sementara itu pelatih Turki, Fatih Terim mengatakan, “Apa yang terjadi hari ini adalah keunikan sejarah sepakbola. Kami sudah menjadi salah satu tim sepakbola yang hebat. Rakyat kami bisa bahagia. Jika rakyat bangga terhadap kami, maka kami juga bangga kepada mereka.”
Pelatih Kroasia, Slaven Bilic, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Namun, dia cukup fair untuk memberi ucapan selamat kepada Turki. “Saya ucapkan selamat kepada Turki yang telah memenangkan pertandingan dan lolos ke semifinal. Saya tak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam dua menit terakhir, dua gol, juga adu penalti yang akhirnya dilakukan. Saya tetap bangga kepada para pemain karena telah menunjukkan permainan yang baik. Adu penalti adalah lotere dan kami kalah dalam lotere itu, meski sebenarnya pemain kami tetap percaya diri,” kata Bilic.
“Itu pertandingan yang luar biasa. Itulah sebabnya sepakbola menjadi olahraga paling populer di dunia. Tapi, rasa sakit atas kekalahan itu akan bertahan begitu lama,” tambah Bilic.
——————-
Hanya untuk mempertegas apa-apa yang telah diungkapkan di atas, inilah pelajaran yang dapat kita petik dari catatan pertadingan kesebelasan Turki itu:
- Percaya diri,
- Kekuatan mental,
- Semangat bertanding yang pantang menyerah,
- Kerja keras,
- Kerjasama dalam tim,
- Kemampuan untuk bangkit dari kekalahan,
- Fair Play, mengakui keunggulan lawan,
- Tidak mencari kambing hitam,
- Proses / permainan yang baik adalah hal yang juga penting disamping hasil,
- Tetap berbuat dan berjuang meskipun persiapan belum sempurna,
- Hubungan baik pelatih dan yang dilatih,
- Berbagai kemungkinan bisa terjadi sebelum peluit akhir pertandingan ditiup,
- Reputasi tidak menjamin prestasi,
- Prestasi baik bisa diraih oleh siapapun (termasuk pemain cadangan),
- Menghargai lawan,
- Membangkitkan kebanggaan nasional,
- Membahagiakan,
- Tidak larut dalam kesedihan bila kalah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Wahyu Budi Setyawan
Tulisan dibuat dengan referensi dari Kompas Update, Koran Tempo, Kompas Online, dan hasil nonton pertandingannya.