Namce8081’s Weblog

Media Komunikasi, Informasi dan Berekspresi Alumni SMA 6 Yogyakarta Tahun 80-81 serta interaksi dg angkatan lain dan almamater

Arsip untuk ‘FALSAFAH OLAHRAGA’ Kategori

Pelajaran dari Piala Konfederasi 2009: Bola bundar, optimis

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juli 8, 2009

Berikut ini adalah kisah tentang “Bola bundar”, kisah tentang optimisme. Dalam pertandingan olahraga bukan matematika yang menentukan kemenangannya, tetapi yang terbaik saat bertandinglah yang akan menang. Itulah yang dapat kita pelajari dari kisah kemenangan Amerika Serikat atas Spanyol dalam semifinal Piala Konfederasi 2009 yang lalu.

Inilah kisah itu. Semoga bermanfaat.

Optimisme itu kiranya juga mewarnai kesebelasan sepakbola Amerika dalam Kejuaraan Piala Konfederasi. Di awal pertandingan mereka kalah 3-1 dari Italia, dan 3-0 dari Brazil; tetapi kemudian bangkit mengalahkan Mesir 3-0, dan Spanyol 2-0. Dengan mengalahkan Spanyol, Amerika maju ke final melawan Brazil.

Dalam dunia politik dan ekonomi, Amerika Serikat memang negara superpower. tetapi, dalam dunia sepak bola, Amerika adalah negara berkembang, sedang Spanyol adalah negara superpower.  Oleh karena itu adalah sebuah sensasi yang besar bila Amerika mengalahkan Spanyol.

Di dalam dunia sepakbola, Spanyol memang layak diberi gelar sebagai superpower. Dalam tiga tahun terakhir, hanya sekali Spanyol dikalahkan Romanis pada 16 Nopember 2006. Setelah itu, dalam 35 pertandingan mereka tidak pernah kalah. Menjelah Piala Konfederasi 2009 ini, 15 kali berturut-turut mereka menang. Kata penyerang Spanyol, Fernando Torres, “Kemenangan berturut-turut itu bukan hanya karena kami bermain dengan baik, tetapi lebih karena secara manusiawi kesebelasan kami luar biasa harminis. Kami saling mengenal satu sama lain sejak kami bermain dalam tim yunior.”

Dengan modal kemenangan yang demikian meyakminkan, ditambah dengan spirit kebersamaan yang demikian kental, Spanyol merasa pasti, mereka akan sampai ke final. “Kami akan menulis sejarah,” kata Torres menjelang pertandingan melawan Amerika Serikat. “Kami harus serius menghadapi Amerika walau terus terang kami sudah bermimpi akan bertemu dengan Brazil di final,” kata pelatih Vicente del Bosque.

Namun apa yang terjadi? Bukan Amerika Serikat yang dikalahkan oleh Spanyol, tetapi sebaliknya, Spanyol dikalahkan oleh Amerika Serikat.

Kemenangan Amerika Serikat atas Spanyol itu memang suatu keajaiban, namun, seperti diakui pelatih Jerman, Joachim Low, kemenangan itu juga disebabkan mereka mempunyai organisasi permainan yang amat rapi dan efektif, serta mereka mempunyai semangat juang yang gigih. Dan, khas bagi orang Amerika, di balik semangat juang itu adalah rasa optimis yang luar biasa.

————–

Sumber:

Ditulis ulang dari Catatan Sepak Bola berjudul “Optimisme Yes We Can” oleh Sindhunata. Kompas, 28 Juni 2009, hal 8.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam FALSAFAH OLAHRAGA, Kebersamaan, Kegigihan, Optimis | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »

Sportsmanship: Sengaja mendapatkan hukuman, didenda.

Ditulis oleh namce8081 di/pada Desember 15, 2008

Sportsmanship adalah moral dalam olahraga yang harus terapkan dengan ketat demi menjada kualitas olahraga itu sendiri.  Salah satu aspek sportsmanship adalah komitmen yang penuh untuk berpartisipasi. Artinya antara lain adalah tampil pada saat latihan dan bertanding, bekerja keras dan sungguh-sungguh pada saat latihan dan bertanding, mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya.

Berikut ini adalah salah satu contoh bagaimana aspek sportsmanship itu ditegakkan di dalam dunia olahraga profesional. Bermain pura-pura atau sengaja mendapatkan hukuman ternyata sudah membuat seorang pemain dipandang melanggar disiplin dan dikenakan hukuman denda.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

—————–

UEFA mendenda dua pemain Olympique Lyon, Cris dan Juninho, JUmat (12/12) karena dengan sengaja mendapatkan kartu hukuman saat pertandingan Liga Champions melawan Fiorentina bulan lalu.

Panel Komisi Disiplin UEFA mendenda Cris sebesar 15.000 euro dan Juninho 10.000 euro setelah setelah kedua pemain tersebut mengakui perbuatan mereka pada pertandingan Grup F melawan Fiorentina 25 November lalu.

Pada pertandingan tersebut keduanya sengaja mendapatkan hukuman kartu kuning agar dapat pelarangan tampil saat tim mereka bertanding melawan Bayern Munich di pertandingan terakhir grup.

Cris dan Juninho masing-masing mendapat dua kartu kuning dalam pertandingan Liga Champions sebelum melawan Fiorentina dan bila mereka mereka mendapat kartu kuning ketiga maka mereka tidak boleh turun pada pertandingan pertama babak sistem gugur melawan Bayern.

Taktik kedua pemain dari Brasil itu mendapatkan kartu hukuman, agar mereka tidak turun pada laga terakhir dan kondisinya bersih saat timnya bermain pada babak sistem gugur.

UEFA mengatakan, kedua pemain itu diberi waktu tiga hari untuk naik banding sebelum dijatuhkan keputusan.

(Dikutip dari: MediaIndonesia.com, Jum’at 12 Desember 2008).

Ditulis dalam Etika, Kejujuran, Sportmanship | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Sportmanship: Insiden Steven Gerrard

Ditulis oleh namce8081 di/pada Desember 12, 2008

Berikut ini adalah suatu contoh kasus tentang bagaimana sportmanship ditegakkan. Coba kita bandingkan dengan apa yang terjadi selama ini dengan berbagai pertandingan sepakbola yang terjadi di tanah air kita tercinta ini yang sering diwarnai dengan kekerasan, baik oleh pemain, supporter, wasit maupun ofisial.

Semoga bermanfaat.

Salam

Wahyu Budi Setyawan

————-

Insiden ini terjadi ketika duel penyisihan grup Liga Champion di Stadion Liverpool antara Liverpool lawan Marseille pada tanggal 26 Nopember 2008.

Ketika pertandingan berlangsung, sebuah korek api gas yang terbuat dari logam dilemparkan oleh seorang supporter Marseille ke arah kapten Loverpool, Steven Gerrard, dan mengenai dadanya ketika ia hendak melakukan tendangan sudut menjelang akhir babak pertama setelah mencetak gol di menit ke 23. Gol itu adalah satu-satunya gol kemenangan yang meloloskan Liverpool ke per-delapan final.

Wakil UEFA dalam pertandingan itu, Sven Johannessen, berjanji mengumpulkan seluruh bukti, termasuk laporan wasit Olegario Benquerenca. Polisi juga bertekad mengusut insiden itu.

Terkait dengan insiden itu, Liverpool dipastikan terhindar dari hukuman karena para supporternya tidak bereaksi negatif. Sementara itu, pelatih Liverpool, Rafael Benitez, memuji sikap Gerrard dalam menghadapi penzaliman terhadap dirinya itu. “Gerrard bersikap sangat baik dalam insiden itu, mungkin wakil UEFA akan mencatatnya. Gerrard tak membalas perlakuan itu dengan sikap apa pun,” kata Benitez.

Bagaimana akhir dari insiden ini?

Pada hari jum’at 12 Nopember 2008, UEFA mengeluarkan keputusan tentang insiden itu. Marseille didenda sebesar 10.000 euro karena pendukungnya melemparkan benda berbahaya ke lapangan Liverpool ketika berlangsung pertandingan Liga Champions pada tanggal 26 Nopember 2008 itu.

(Diolah dari Sumber: Warta Kota, Jum’at 28 Nopember 2008; Republika Online, Sabtu 13 Desember 2008).

Ditulis dalam Etika, Sportmanship | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Sportsmanship

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Sportsmanship adalah moral dalam olahraga. Keating (1964) menyebutkan bahwa sportsmanship adalah bertingkah laku sebagai seorang sportsman, sedang sportsman adalah orang yang tertarik atau terlibat dalam kegiatan sport (baca: olahraga). Pada tahun 1926, National Sportsmanship Brotherhood di Amerika Serikat diorganisir untuk menyebarkan ajaran sportsmanship ke seluruh aspek kehidupan, dari pertandingan anak-anak sampai internasional. Ajaran itu terdiri dari delapan aturan sebagai berikut:

1)      Patuhi peraturan,

2)      Percayai teman anda,

3)      Peliharalah kebugaran anda,

4)      Kendalikan kemarahan anda,

5)      Peliharalah permainan anda tetap bebas dari kebrutalan,

6)      Kendalikan kebanggaan anda bila menang,

7)      Tetap gagah bila kalah,

8)      Peliharlah jiwa yang sehat dan pikiran yang jernih di dalam tubuh yang sehat.

Selogan yang diadopsi adalah “Not that you won or lost – but how you played the game” yang dapat diterjemahkan kira-kira “Bukan menang atau kalah – tetapi bagaimana anda menjalani pertandingan.”

Menurut National Fedetarion of State High School Association di Amerika Serikat, sportsmanship yang baik adalah komitmen untuk fair play, tingkah laku yang etis dan integritas (WCPSS, 2008). Selanjutnya, dalam pemahaman dan praktek, sportsmanship didefinisikan sebagai kualitas yang dicirikan oleh kebaikan hati dan ketulusan terhadap orang lain dengan cara:

  1. Bermain dengan mengikuti peraturan, terima kekalahan atau kegagalan tanpa protes, atau kemenangan tanpa kegembiraan berlebihan;
  2. Perlakukan orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan;
  3. Hargai orang lain dan diri sendiri;
  4. Kuatkan kontrol diri, tetap sopan, dan menerima dengan hormat hasil dari aksi orang lain;
  5. Tunjukkan sikap yang etis dengan tetap baik (karakter) dan berlaku benar (aksi);
  6. Jadilah warga yang baik.

Selanjutnya di dalam Wikipedia (2007) disebutkan bahwa sportsmanship adalah menyesuaikan diri dengan peraturan, semangat dan etika sport (baca: olahraga). Kemudian dijelaskan, menurut Shield & Bredemeier tahun 1995, sportsmanship secara khusus dipandang sebagai komponen moral dalam olahraga yang tersusun dari tiga konsep yang berkaitan dan mungkin saling tumpang tindih, yaitu fair play, sportsmanship dan karakter.

Fair play mengacu kepada seluruh partisipan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kemenangan, dan bertindak terhadap ortang lain dengan kejujuran, berterusterang, dan bersikap gagah dan bermartabat meskipun ketika orang lain tidak mengikuti peraturan. Hal ini meliputi penghargaan terhadap orang lain termasuk anggota tim, lawan dan para ofisial.

Karakter mengacu kepada watak, nilai-nilai, dan kebiasaan yang menentukan cara seseorang biasanya merespon keinginan, ketakutan, tantangan, kesempatan dan kegagalan, dan secara khusus terlihat dalam tingkah laku yang sopan terhadap orang lain seperti membantu lawan berdiri, atau bersalaman setelah pertandingan berakhir. Seseorang dipandang memiliki “karakter yang baik” bila watak dan kebiasaannya mencerminkan nilai-nilai etika utama.

Sportsmanship dapat dikategorikan sebagai suatu karakter atau watak yang tetap dan relatif stabil sedemikian rupa sehingga individu-individu berbeda dalam cara mereka diharapkan bertingkah laku dalam situasi olahraga. Secara umum, sportsmanship mengacu pada kebaikan seperti kejujuran (fairness), kontrol diri, keteguhan hati, dan kegigihan, dan diasosiasikan dengan konsep-konsep interpersonal seperti memperlakukan orang lain dan diri sendiri dengan fair, mempertahankan kontrol diri ketika berurusan dengan orang lain, dan menghargai pihak berwenang dan lawan. Kemudian dijelaskan bahwa Vallerand et al tahun 1996 dan 1997 telah mengidentifikasi lima aspek dari sportsmanship, yaitu:

  1. Komitmen yang penuh untuk berpartisipasi (seperti: tampil, bekerja keras selama latihan dan pertandingan, mengakui kesalahan dan mencoba memperbaiki);
  2. Menghargai dan memperhatikan peraturan-peraturan dan ofisial;
  3. Menghargai dan memperhatikan adat kebiasaan sosial (seperti: berjabat tangan, mengakui penampilan lawan yang baik);
  4. Menghargai dan memperhatikan lawan (seperti: meminjamkan perlengkapan kapada lawan, sepakat bermain meskipun lawan datang terlambat, tidak mengambil keuntungan dari lawan yang cedera);
  5. Menghindari sikap yang buruk terhadap partisipan (seperti: tidak memakai pendekatan “menang bagaimanapun caranya”, tidak memperlihatkan kemarahan terhadap suatu kesalahan, dan tidak bermain sendiri untuk menunjukkan diri)

Poor Sportsmanship

Bila seseorang yang bertanding dan memperlihatkan “poor sportsmanship” (sportsmanship yang buruk) setelah kekalahan dalam suatu pertandingan, disebut sebagai “sore loser”. Sikap dari sportsmanship yang buruk meliputi bereaksi tidak dewasa atau tidak pantas, membuat alasan untuk kekalahannya, mengacu pada kondisi-kondisi buruk dan isu-isu remeh yang lain.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan


Ditulis dalam Etika | Bertanda: , , , , , | 2 Komentar »

Melindungi Olahraga (Pelajaran dari Peru dan Indonesia)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Olahraga akan kehilangan rohnya bila di dalamnya tidak ada lagi fair play. Fair play tidak hanya dituntut dari para atlit di lapangan, tetapi juga dari para stakeholder, seperti: pemerintah dan media massa. Apa yang terjadi di Peru adalah pelajaran yang berharga untuk diabaikan. Selain itu, olahraga hendaknya juga dilindungi dari orang-orang yang terlibat masalah kriminal seperti yang terjadi di Indonesia

Tidak boleh ada politik

FIFA menghukum Peru tak boleh mengikuti laga internasional karena pertikaian antara pemerintah dan federasi sepak bola Peru. Jika Peru tidak juga menyelesaikan masalahnya, bukan tidak mungkin negara itu akan dikeluarkan keanggotaannya dari FIFA. Badan dunia sepak bola itu melarang adanya campur tangan politik dalam sepak bola.

Persoalannya adalah, Pemerintah Peru tidak mengakui terpilihnya Manuel Burga sebegai Presiden Federasi Sepak Bola Peru.

Media Massa dan Prestasi Olahraga

Persepakbolaan Peru terus terpuruk sejak masa kejayaan mereka tahun 1970-an. Negara ini tidak pernah masuk lagi ke babak final Piala Dunia sejak 1982. Perselisihan mengguncang publik Peru yang sebelumnya telah marah karena keghagalan tim nasilnal mereka.

Para pemain Peru sering dituding tidak disiplin. Namun, mereka sering mengeluh karena menjadi sasaran pelecehan dari tabloid dan stasiun televisi setempat.

Tidak boleh ada kriminal

Kasus Peru berbeda dengan kasus Indonesia. Untuk kasus Indonesia, FIFA tidak mengakui terpilihnya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dan meminta federasi sepak bola  Indonesia ini untuk segera melakukan pemilihan ulang. PSSI masih mempertahankan Nurdin Halid yang mendekam di penjara karena kasus korupsi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Referensi: Kompas, 26 Nopember 2008

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Kejujuran Montgomery (tidak ada kata terlambat)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Tim Montgomery (33) adalah seorang sprinter asal Amerika Serikat yang pernah menjadi pemegang rekor dunia 100 meter. Ia mengakui telah melakukan doping sebelum bertanding di Olimpiade XXVII 2000 Sydney pada nomor estafet 4 x 100 meter. Ia mengakui bahwa dirinya tidak berhak memperoleh medali emas Olimpiade Sydney estafet 4 x 100 meter yang diraihnya bersama Jon Drummond, Brian Lewis, dan Maurice Greene. Pengakuan itu disampaikannya pada tanggal 24 Nopember 2008 dalam wawancaranya dengan Bryant Gumbel dari televisi HBO untuk acara Real Sport di dalam ruang tahanannya.

Ia mengatakan: “Hal terpenting yang terjadi pada Olimpiade 2000 Sydney itu adalah saya telah melanggar peraturan, karena saya telah menggunakan testosterone. Di samping itu saya juga memakai HGH (Human Growth Hormone) empat kali setiap bulannya”. Ditambahkan, “Hasilnya saya mampu meraih medali emas. Namun, medali tersebut tidak saya peroleh karena kemampuan saya yang sesungguhnya.”

Pengakuan Montgomery ini dapat membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) membatalkan medali emas untuk nomor 4 x 100 meter. Termasuk menarik medali emas dari tim estafet AS yang terdiri dari Maurice Greene, Jon Drummond, Bernard William, Brian Lewis, dan Kenneth Brokenburr.

Montgomery mengucapkan penyesalannya: “Tentu keberadaan saya di sini karena kesalahan saya sendiri. Itu sebabnya saya ingin menyampaikan rasa penyesalan saya kepada semua orang atas kejadian ini.”

Referensi: Atletik, Kompas, 26 Nopember 2008

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

FAIR PLAY DAN KEJUJURAN: Menggugat Beckham

Ditulis oleh namce8081 di/pada September 21, 2008

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata tentang Fair Play dan Kejujuran yang dituntut dari seorang olahragawan, dan kebutuhan untuk mengatur strategi agar dapat bermain dalam suatu pertandingan. Apabila anda yang mengalaminya, apa yang akan anda lakukan?

Kisah ini, yang aslinya berjudul “Menggugat Beckham”, dikutip dengan modifikasi dari Koran Tempo, Kamis, 14 Oktober 2004, halaman 7. Silahkan mengikuti dan semoga bermanfaat.

————————–

Sekitar 65 ribu pasang mata jadi saksinya. Tapi mereka tidak menyadari yang terjadi sesungguhnya. Menit ke-83 pertandingan Inggris-Wales pada Kualifikasi Piala Dunia 2006 di Stadion Old Trafford, Manchester, Sabtu pekan lalu (9 Oktober 2004-red). Kapten nasional Inggris (ketika itu-red), David Beckham, tiba-tiba menabrakkan tubuhnya dengan kasar ke arah pemain belakang Wales, Ben Thatcher. Kedua pemin jatuh, Beckham meringis sambil memegang rusuk kirinya. Wasit Terje Hauge mengeluarkan kartu kuning untuk Beckham.

Beckham masih dapat bermain dua menit lagi sebelum ditarik keluar oleh pelatihnya, Sven-Goran Eriksson. Itu karena Beckham tak kuasa menahan sakit di rusuknya. Sampai di sini tak ada persoalan. Barulah esok hari “bom” itu meledak. Kepada Harian Daily Telegraph gelandang Real Madrid ini (ketika itu-red) mengaku. “Saya sudah merasakan sakit sebelumnya, jadi saya sengaja melanggar Thatcher,” katanya.

Satu kartu kuning sudah ia dapatkan sebelumnya saat lawan Austria, awal September. Dengan tambahan satu kartu lagi di pertandingan ini, Beckham alhasil tak boleh ikut lawatan Inggris ke Azerbaijan, Rabu ini (20 Oktober 2004-red). Beckham akhirnya punya dua keuntungan. Pertama, dia bisa istirahat. Kedua, setelah pertandingan Azerbaijan-Inggris, hukuman Beckham pun mengalami pemutihan.

Tapi tunggu dulu. Masalah tak berhenti sampai di situ. Di Baku, Azerbaijan, Presiden FIFA (ketika itu-red) Sepp Blatter mengecam keras tindakan Beckham itu. Menurutnya, tindakan Beckham melanggar nilai-nilai Fair Play. “Saya tidak bilang ini sebuah kiamat, tapi ini tetap menyakitkan bagi saya. Ia seorang yang menyandang predikat dua fair play juga figur untuk kaum muda di seluruh dunia. Saya tetap sukar mengerti ia benar-benar melakukan satu kesengajaan agar dikeluarkan dari satu pertandingan, dan kemudian mengakuinya. Saya sungguh-sungguh kecewa,” kata Blatter. Ia telah menitipkan masalah ini kepada Presiden FA (ketika itu-red), Geoff Thompson, agar mengambil tindakan yang memadai terhadap Beckham.

Beckham adalah icon di dunia hiburan sepak bola. Dia bukan sekadar pemain, tapi juga simbol kepahlawanan bagi sebagian besar anak-anak. Kerajaan Inggris pernah memberinya gelar OBE (Officer of the Order of the British Empire) kepadanya pada 2003 sebagai penghormatan akan pengabdiannya kepada negara. Bersama beberapa pemain tenar lain, FIFA membebaninya dengan gelar Duta Fair Play. Itu mungkin yang jadi beban pikiran Blatter.

Pelatih Wales (ketika itu-red), Mark Hughes, tak kalah tajam menyoroti. “Sangat mengejutkan saya, ini sebuah kenyataan yang terjadi di sebuah pertandingan. Membuat huru-hara dengan sebuah pikiran, semuanya akan selesai begitu saja. Mudahkah hal semacam ini diizinkan?” kata mantan striker Manchester United era 1980-an setengah bertanya.

Geoff Hurst, pahlawan Inggris pencetak tiga gol saat mengalahkan Jerman Barat di final Piala Dunia 1966, lebih sinis lagi. “Bila FIFA melihat itu, mereka pasti berpikir dia (Beckham) tengah membawa sepakbola ke sebuah kehinaan. Juga menghinakan negeri ini,” katanya berapi-api.

Rekan tim nasional sekaligus kapten kedua Inggris (ketika itu-red), Michael Owen, lebih berhati-hati bicara soal seniornya itu. “Ini masalah pelik. Jika saya menyebut benar atau salah, itu harus diletakkan pada konteks benar atau salah itu sendiri,” kata striker Liverpool (ketika itu-red) itu.

Eriksson lain lagi. Sebagai pelatih, ia harus melindungi anak buahnya. Dan sebagai teman, sudah terbukti, Beckham selalu membelanya saat Eriksson menghadapi masa-masa sulit sehubungan dengan isu skandal perselingkuhannya dengan dua wanita di luar pacarnya, Nancy Dell’Ollio.

“Kita tak hidup di dunia yang sempurna,” kata pelatih asal Swedia ini. “Saat seorang pemain memutuskan untuk mencari kartu agar tidak bermain di pertandingan selanjutnya, maka ia akan melakukannya, baik kita salahkan atau tidak. Kita tidak bisa menutup mata untuk itu. Saya yakin, hal semacam ini sudah lazim, bahkan lebih banyak terjadi di sepakbola profesional daripada amatir.”

Polemik wacana masih berjalan (ketika itu-red). (Sekarang) tinggal FA dan FIFA untuk memutuskan. Yang jelas, satu hal harus diacungi jempol dari Beckham: kejujuran. Keberanian pemain berusia 29 tahun (ketika itu-red) untuk mengatakan yang sesungguhnya layak mendapat nilai lebih.

Saat melakukannya, toh, ia juga tidak terlalu keras terhadap Thatcher. Bahkan, sebenarnya, cedera rusuk Beckham sendiri yang bertambah parah. Bila bisa disebut “ganjaran”, maka cedera itu memang pntas diterima. Terapi terhadap rusuknya bisa memakan waktu satu hingga enam pekan.

Tapi pelatih Sheffield United (ketika itu-red), Neil Warnock, punya pendapat lain. “Semua pelatih tak asing dengan kejadian seperti itu, seorang pemain mencari kartu agar bisa bebas main pada dua partai lagi. Itu biasa. Seharusnya, dia tak usah ngomong……” Jadi?

—————–

Demikian sebuah kisah tentang menegakkan Fair Play, Kejujuran, dan mengatur strategi agar dapat bermain. Suatu pilihan yang tidak mudah dilakukan.

Bagaimana penyelesaian akhir dari masalah itu? Mohon maaf, saya tidak mengetahuinya.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Sofi, Wakili DIY dalam Porseni Karate

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juli 14, 2008

09/07/2008 08:56:02

YOGYA (KR) – http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=170111&actmenu=41

Dari sekian banyak calon karateka masa depan DIY yang berpotensi, di antaranya adalah Sofia Nabila. Namanya begitu indah, secantik orangnya. Jika melihat wajahnya, dia pantas menjadi selebritis panggung hiburan. Tapi situasinya berkata lain, diapun tersesat menjadi karateka yang jika terus dipupuk akan menjadi pesaing berat bagi karateka dari daerah lain.
Sofi begitu dia disapa, namanya terus berkibar. Itu tak lain, seiring dengan ukiran prestasinya yang begitu membanggakan. Siswi kelas XI SMAN 6 Yogya itu, sudah tidak asing lagi bagi lawannya yang turun di kelas kadet putri.
Jika menilik prestasinya ke belakang, Sofi telah mempersembahkan beberapa kali juara, di antaranya juara kejuaraan karate DIY/Jateng yang digelar UNY, Popda DIY, Sleman Cup dan banyak lagi kejuaraan karate yang diikutinya yang semua itu mampu menghasilkan prestasi yang menggembirakan. Dan Agustus 2008 mendatang, akan mewakili DIY dalam Porseni cabang Karate tingkat SMA di Jakarta. “Target saya menimal masuk tiga besar,” ucapnya mantap.    (Rar)-d

Ditulis dalam Aktifitas, Fair Play, Prestasi | Bertanda: , | Leave a Comment »

Pelajaran dari Sepak Bola (2)

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 21, 2008

Euro 2008 ini ternyata memberikan banyak pelajaran bagi kita yang mau mengambil pelajaran dari pertandingan-pertandingan yang telah berlangsung.

Pada kesempatan ini kami mencoba mencatat apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari dua pertandingan dari Turki, yaitu pertandingan Turki vs Cek ketika menentukan kesebelasan yang akan masuk ke perempat final, dan pertandingan Turki vs Kroasia ketika penentuan kesebelasan yang akan masuk ke semi final.

Turki vs Cek

Sampai pada menit ke-74 di babak ke dua, Cek unggul atas Turki 2 – 0. Tetapi setelah itu, keadaan berbalik berubah. Pada menit ke-75, Turki menyarangkan gol balasan sehingga kedudukan menjadi 2 – 1. Kedudukan itu bertahan sampai menit ke-86. Selanjutnya, kondisi berubah sangat dramatis. Pada menit ke-87 dan ke-89 Turki mampu menyarangkan dua gol lagi sehingga keadaan menjadi 3 – 2 untuk kemenangan Turki, dan Cek tersingkir.

Gol Turki pada menit ke-87 itu terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh kiper Cek, Petr Cech. Kiper yang saat ini dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di dunia itu gagal menangkap bola. Ia kehilangan kontrol atas bola, bola terlepas dari tangannya dan jatuh di depan penyerang Turki yang langsung menyarangkan ke dalam gawang Cek.

Selanjutnya, ketika para pemain Cek belum pulih dari rasa terkejut, kapten kesebelasan Turki berhasil lolos dari perangkap offside dan menciptakan gol ke-3. Diakui oleh kiper Petr Cech bahwa gol yang terakhir ini adalah konsekuensi dari gol sebelumnya. “Kesalahan saya membuat shock semua orang,” ujarnya.

Diakui pula bahwa blunder Petr Cech memang sulit diterima, manum juga diakui bahwa kesalahan bukan sepenuhnya pada kiper itu. Diakui bahwa kebangkitan Turki tak lepas dari perubahan pola permainan kesebelasan Cek. Setelah unggul dua gol, kesebelasan Cek berhenti menyerang dan menjadi sangat bertahan.

“Saya belum pernah melihat tim yang permainan berubah drastis antara bbak pertama dan kedua,” ujar Ivo Viktor, kiper Cekoslowakia di Piala Eropa 1976. “Kami berhenti menekan dan memilih mundur ke belakang,” ujar mantan Pelatih Spartak Praha, Jaroslav Hrebik.

Turki vs Kroasia

Sampai berakhirnya waktu pertandingan 90 menit, kedudukan skor masih 0 – 0. Keadaan itu terus bertahan sampai babak pertama perpanjangan waktu berakhir dan berlanjut sampai 2 menit berakhirnya babak kedua perpanjangan waktu.

Pada menit ke-119, Kroasia merubah keadaan menjadi 1 – 0 untuk Kroasia, setelah Kroasia mencetak gol terlebih dahulu lewat pemain pengganti Ivan Klasnic di menit ke-119. Gol ini terjadi akibat kecerobohan Rustu, kiper Turki, meninggalkan gawangnya.

Tapi lagi-lagi Turki memperlihatkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang pantang menyerah. Hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, Semih Senturk berhasil membalas. Senturk berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Pletikosa.

Kedudukan berimbang 1- 1 setelah babak perpanjangan waktu akhrnya dilanjutkan dengan abu tendangan pinalti.

Gol balasan dari Turki ternyata itu meruntuhkan mental pemain Kroasia yang sudah sempat merasa menjadi pemenang. Hal itu terlihat ketika adu penalti, Kroasia hanya mampu mencetak gol melalui Dario Srna, sedangkan Luka Modric, Daniel Rakitic, dan Mladen Petric semuanya gagal.

Sementara, tiga penendang Turki Arda Turan, Semih Senturk, dan Hamit Altintop berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dan, kiper veteran Rustu Recber yang menjaga gawang Turki mampu menepis eksekusi Mladen Petric. Keberhasilan Rustu menggagalkan penalti Petric memastikan Turki lolos ke semi final.

Hasil pertandingan ini membuktikan semangat pantang menyerah Turki.

Fatih Terim magic touch continues…begitu kata-kata komentator dalam bahasa Inggris mengomentari keberhasilan Turki lolos ke semifinal setelah mengalahkan Kroasia lewat drama adu penalti.

——————————

Hasil-hasil prtandingan itu menunjukkan bahwa wajar jika Turki kemudian disebut sebagai The King of Comeback. “Tim kami memang belum sempurna. Tapi, sekali lagi kami bisa menunjukkan kemampuan bangkit dan berada di jalur yang tepat,” kata pemain Turki, Hamit Altintop.

“Ini untuk ketiga kalinya kami mampu bangkit dari ketertinggalan untuk kemudian memenangkan pertandingan. Jika kami mampu bermain seperti ini, maka segalanya menjadi mungkin buat kami,” tambah Altintop percaya diri.

Sementara itu pelatih Turki, Fatih Terim mengatakan, “Apa yang terjadi hari ini adalah keunikan sejarah sepakbola. Kami sudah menjadi salah satu tim sepakbola yang hebat. Rakyat kami bisa bahagia. Jika rakyat bangga terhadap kami, maka kami juga bangga kepada mereka.”

Pelatih Kroasia, Slaven Bilic, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Namun, dia cukup fair untuk memberi ucapan selamat kepada Turki. “Saya ucapkan selamat kepada Turki yang telah memenangkan pertandingan dan lolos ke semifinal. Saya tak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam dua menit terakhir, dua gol, juga adu penalti yang akhirnya dilakukan. Saya tetap bangga kepada para pemain karena telah menunjukkan permainan yang baik. Adu penalti adalah lotere dan kami kalah dalam lotere itu, meski sebenarnya pemain kami tetap percaya diri,” kata Bilic.

“Itu pertandingan yang luar biasa. Itulah sebabnya sepakbola menjadi olahraga paling populer di dunia. Tapi, rasa sakit atas kekalahan itu akan bertahan begitu lama,” tambah Bilic.

——————-

Hanya untuk mempertegas apa-apa yang telah diungkapkan di atas, inilah pelajaran yang dapat kita petik dari catatan pertadingan kesebelasan Turki itu:

  1. Percaya diri,
  2. Kekuatan mental,
  3. Semangat bertanding yang pantang menyerah,
  4. Kerja keras,
  5. Kerjasama dalam tim,
  6. Kemampuan untuk bangkit dari kekalahan,
  7. Fair Play, mengakui keunggulan lawan,
  8. Tidak mencari kambing hitam,
  9. Proses / permainan yang baik adalah hal yang juga penting disamping hasil,
  10. Tetap berbuat dan berjuang meskipun persiapan belum sempurna,
  11. Hubungan baik pelatih dan yang dilatih,
  12. Berbagai kemungkinan bisa terjadi sebelum peluit akhir pertandingan ditiup,
  13. Reputasi tidak menjamin prestasi,
  14. Prestasi baik bisa diraih oleh siapapun (termasuk pemain cadangan),
  15. Menghargai lawan,
  16. Membangkitkan kebanggaan nasional,
  17. Membahagiakan,
  18. Tidak larut dalam kesedihan bila kalah.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Tulisan dibuat dengan referensi dari Kompas Update, Koran Tempo, Kompas Online, dan hasil nonton pertandingannya.

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kegigihan | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Ujian Fair Play bagi Belanda

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 17, 2008

Pada Rabu, 18 Juni 2008 dini hari nanti waktu Indonesia Barat akan terjadi pertandingan penentuan kesebelasan yang akan maju ke perempat final Euro 2008. Perancis vs Italia, dan Belanda vs Rumania.

Dari pertandingan sebelumnya, Beanda teah dipastikan lolos ke perempat final setelah menang atas Italia dan Perancis. Jadi, apapun hasil pertandngannya melawan Rumania tidak akan mempengaruhi posisinya. Bagi Rumania, untuk dapat maju ke perempat final harus menang atas Belanda.

Sementara itu, bagi Perancis dan Italia, nasib keduanya sangat ditentukan oleh hasil pertandingan Belanda vs Rumania. Apabila Rumania menang, maka keduanya akan tersingkir. Apabila Rumania seri lawan Belanda, maka Perancis atau Belanda harus memang untuk dapat maju ke perempat final.

Kekhawatiran akan ketidak-jururan Belanda saat berhadapan dengan Rumania dapat dimengerti. Bagi Belanda, pertandingan melawan Rumania memberikan kesempatan untuk mendepak dua tim finalis Piala Dunia 2006.

“Ada kekhawatiran soal biscotto (main mata atau pengaturan hasil pertandingan),” kata gelandang Italia Daniel De Rossi.

“Kredibilitas seluruh turnamen dan sepak bola Eropa sedang dipertaruhkan. kalau Anda melihat baaimana Belnda mengalahkan Italia dan Perancis, maka partai lwan Rumania seharusnya berakhir sama.” Demikian Presiden FIGC Giancari Abete dikutip The Sun.

Tetapi, juru bicara UEFA William Gailard berkata, “Masuk akal kalau Belanda memainkan pemain cadangan. Anda tak bisa mengambil resiko kartu kuning. Anda mengistirahatkan pemain terbaik, beri kesempatan pada lainnya untuk unjuk gigi. Itu tidak melanggar aturan, cuma fakta kehidupan.”

Sementara itu, dipihak lain, Rumania tentu tidak akan tinggal diam. Tentu mereka akan berjuang keras untuk menang melawan Belanda.

———

Di sini Fair Play dari Belanda diuji. Dan, harga diri Rmania dipertaruhkan.

Pertandingan dini hari nanti akan memberikan jawaban.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

************

Hasil akhir pertandingan dini hari ini (jam 03.45):

Belanda (2) – Rumania (0)

Italia (2) – Perancis (0)

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Fair Play | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »