Namce8081’s Weblog

Media Komunikasi, Informasi dan Berekspresi Alumni SMA 6 Yogyakarta Tahun 80-81 serta interaksi dg angkatan lain dan almamater

Arsip untuk ‘Berjiwa Besar’ Kategori

Melindungi Olahraga (Pelajaran dari Peru dan Indonesia)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Olahraga akan kehilangan rohnya bila di dalamnya tidak ada lagi fair play. Fair play tidak hanya dituntut dari para atlit di lapangan, tetapi juga dari para stakeholder, seperti: pemerintah dan media massa. Apa yang terjadi di Peru adalah pelajaran yang berharga untuk diabaikan. Selain itu, olahraga hendaknya juga dilindungi dari orang-orang yang terlibat masalah kriminal seperti yang terjadi di Indonesia

Tidak boleh ada politik

FIFA menghukum Peru tak boleh mengikuti laga internasional karena pertikaian antara pemerintah dan federasi sepak bola Peru. Jika Peru tidak juga menyelesaikan masalahnya, bukan tidak mungkin negara itu akan dikeluarkan keanggotaannya dari FIFA. Badan dunia sepak bola itu melarang adanya campur tangan politik dalam sepak bola.

Persoalannya adalah, Pemerintah Peru tidak mengakui terpilihnya Manuel Burga sebegai Presiden Federasi Sepak Bola Peru.

Media Massa dan Prestasi Olahraga

Persepakbolaan Peru terus terpuruk sejak masa kejayaan mereka tahun 1970-an. Negara ini tidak pernah masuk lagi ke babak final Piala Dunia sejak 1982. Perselisihan mengguncang publik Peru yang sebelumnya telah marah karena keghagalan tim nasilnal mereka.

Para pemain Peru sering dituding tidak disiplin. Namun, mereka sering mengeluh karena menjadi sasaran pelecehan dari tabloid dan stasiun televisi setempat.

Tidak boleh ada kriminal

Kasus Peru berbeda dengan kasus Indonesia. Untuk kasus Indonesia, FIFA tidak mengakui terpilihnya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dan meminta federasi sepak bola  Indonesia ini untuk segera melakukan pemilihan ulang. PSSI masih mempertahankan Nurdin Halid yang mendekam di penjara karena kasus korupsi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Referensi: Kompas, 26 Nopember 2008

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Kejujuran Montgomery (tidak ada kata terlambat)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Tim Montgomery (33) adalah seorang sprinter asal Amerika Serikat yang pernah menjadi pemegang rekor dunia 100 meter. Ia mengakui telah melakukan doping sebelum bertanding di Olimpiade XXVII 2000 Sydney pada nomor estafet 4 x 100 meter. Ia mengakui bahwa dirinya tidak berhak memperoleh medali emas Olimpiade Sydney estafet 4 x 100 meter yang diraihnya bersama Jon Drummond, Brian Lewis, dan Maurice Greene. Pengakuan itu disampaikannya pada tanggal 24 Nopember 2008 dalam wawancaranya dengan Bryant Gumbel dari televisi HBO untuk acara Real Sport di dalam ruang tahanannya.

Ia mengatakan: “Hal terpenting yang terjadi pada Olimpiade 2000 Sydney itu adalah saya telah melanggar peraturan, karena saya telah menggunakan testosterone. Di samping itu saya juga memakai HGH (Human Growth Hormone) empat kali setiap bulannya”. Ditambahkan, “Hasilnya saya mampu meraih medali emas. Namun, medali tersebut tidak saya peroleh karena kemampuan saya yang sesungguhnya.”

Pengakuan Montgomery ini dapat membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) membatalkan medali emas untuk nomor 4 x 100 meter. Termasuk menarik medali emas dari tim estafet AS yang terdiri dari Maurice Greene, Jon Drummond, Bernard William, Brian Lewis, dan Kenneth Brokenburr.

Montgomery mengucapkan penyesalannya: “Tentu keberadaan saya di sini karena kesalahan saya sendiri. Itu sebabnya saya ingin menyampaikan rasa penyesalan saya kepada semua orang atas kejadian ini.”

Referensi: Atletik, Kompas, 26 Nopember 2008

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Pelajaran dari Sepak Bola (2)

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 21, 2008

Euro 2008 ini ternyata memberikan banyak pelajaran bagi kita yang mau mengambil pelajaran dari pertandingan-pertandingan yang telah berlangsung.

Pada kesempatan ini kami mencoba mencatat apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari dua pertandingan dari Turki, yaitu pertandingan Turki vs Cek ketika menentukan kesebelasan yang akan masuk ke perempat final, dan pertandingan Turki vs Kroasia ketika penentuan kesebelasan yang akan masuk ke semi final.

Turki vs Cek

Sampai pada menit ke-74 di babak ke dua, Cek unggul atas Turki 2 – 0. Tetapi setelah itu, keadaan berbalik berubah. Pada menit ke-75, Turki menyarangkan gol balasan sehingga kedudukan menjadi 2 – 1. Kedudukan itu bertahan sampai menit ke-86. Selanjutnya, kondisi berubah sangat dramatis. Pada menit ke-87 dan ke-89 Turki mampu menyarangkan dua gol lagi sehingga keadaan menjadi 3 – 2 untuk kemenangan Turki, dan Cek tersingkir.

Gol Turki pada menit ke-87 itu terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh kiper Cek, Petr Cech. Kiper yang saat ini dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di dunia itu gagal menangkap bola. Ia kehilangan kontrol atas bola, bola terlepas dari tangannya dan jatuh di depan penyerang Turki yang langsung menyarangkan ke dalam gawang Cek.

Selanjutnya, ketika para pemain Cek belum pulih dari rasa terkejut, kapten kesebelasan Turki berhasil lolos dari perangkap offside dan menciptakan gol ke-3. Diakui oleh kiper Petr Cech bahwa gol yang terakhir ini adalah konsekuensi dari gol sebelumnya. “Kesalahan saya membuat shock semua orang,” ujarnya.

Diakui pula bahwa blunder Petr Cech memang sulit diterima, manum juga diakui bahwa kesalahan bukan sepenuhnya pada kiper itu. Diakui bahwa kebangkitan Turki tak lepas dari perubahan pola permainan kesebelasan Cek. Setelah unggul dua gol, kesebelasan Cek berhenti menyerang dan menjadi sangat bertahan.

“Saya belum pernah melihat tim yang permainan berubah drastis antara bbak pertama dan kedua,” ujar Ivo Viktor, kiper Cekoslowakia di Piala Eropa 1976. “Kami berhenti menekan dan memilih mundur ke belakang,” ujar mantan Pelatih Spartak Praha, Jaroslav Hrebik.

Turki vs Kroasia

Sampai berakhirnya waktu pertandingan 90 menit, kedudukan skor masih 0 – 0. Keadaan itu terus bertahan sampai babak pertama perpanjangan waktu berakhir dan berlanjut sampai 2 menit berakhirnya babak kedua perpanjangan waktu.

Pada menit ke-119, Kroasia merubah keadaan menjadi 1 – 0 untuk Kroasia, setelah Kroasia mencetak gol terlebih dahulu lewat pemain pengganti Ivan Klasnic di menit ke-119. Gol ini terjadi akibat kecerobohan Rustu, kiper Turki, meninggalkan gawangnya.

Tapi lagi-lagi Turki memperlihatkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang pantang menyerah. Hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, Semih Senturk berhasil membalas. Senturk berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Pletikosa.

Kedudukan berimbang 1- 1 setelah babak perpanjangan waktu akhrnya dilanjutkan dengan abu tendangan pinalti.

Gol balasan dari Turki ternyata itu meruntuhkan mental pemain Kroasia yang sudah sempat merasa menjadi pemenang. Hal itu terlihat ketika adu penalti, Kroasia hanya mampu mencetak gol melalui Dario Srna, sedangkan Luka Modric, Daniel Rakitic, dan Mladen Petric semuanya gagal.

Sementara, tiga penendang Turki Arda Turan, Semih Senturk, dan Hamit Altintop berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dan, kiper veteran Rustu Recber yang menjaga gawang Turki mampu menepis eksekusi Mladen Petric. Keberhasilan Rustu menggagalkan penalti Petric memastikan Turki lolos ke semi final.

Hasil pertandingan ini membuktikan semangat pantang menyerah Turki.

Fatih Terim magic touch continues…begitu kata-kata komentator dalam bahasa Inggris mengomentari keberhasilan Turki lolos ke semifinal setelah mengalahkan Kroasia lewat drama adu penalti.

——————————

Hasil-hasil prtandingan itu menunjukkan bahwa wajar jika Turki kemudian disebut sebagai The King of Comeback. “Tim kami memang belum sempurna. Tapi, sekali lagi kami bisa menunjukkan kemampuan bangkit dan berada di jalur yang tepat,” kata pemain Turki, Hamit Altintop.

“Ini untuk ketiga kalinya kami mampu bangkit dari ketertinggalan untuk kemudian memenangkan pertandingan. Jika kami mampu bermain seperti ini, maka segalanya menjadi mungkin buat kami,” tambah Altintop percaya diri.

Sementara itu pelatih Turki, Fatih Terim mengatakan, “Apa yang terjadi hari ini adalah keunikan sejarah sepakbola. Kami sudah menjadi salah satu tim sepakbola yang hebat. Rakyat kami bisa bahagia. Jika rakyat bangga terhadap kami, maka kami juga bangga kepada mereka.”

Pelatih Kroasia, Slaven Bilic, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Namun, dia cukup fair untuk memberi ucapan selamat kepada Turki. “Saya ucapkan selamat kepada Turki yang telah memenangkan pertandingan dan lolos ke semifinal. Saya tak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam dua menit terakhir, dua gol, juga adu penalti yang akhirnya dilakukan. Saya tetap bangga kepada para pemain karena telah menunjukkan permainan yang baik. Adu penalti adalah lotere dan kami kalah dalam lotere itu, meski sebenarnya pemain kami tetap percaya diri,” kata Bilic.

“Itu pertandingan yang luar biasa. Itulah sebabnya sepakbola menjadi olahraga paling populer di dunia. Tapi, rasa sakit atas kekalahan itu akan bertahan begitu lama,” tambah Bilic.

——————-

Hanya untuk mempertegas apa-apa yang telah diungkapkan di atas, inilah pelajaran yang dapat kita petik dari catatan pertadingan kesebelasan Turki itu:

  1. Percaya diri,
  2. Kekuatan mental,
  3. Semangat bertanding yang pantang menyerah,
  4. Kerja keras,
  5. Kerjasama dalam tim,
  6. Kemampuan untuk bangkit dari kekalahan,
  7. Fair Play, mengakui keunggulan lawan,
  8. Tidak mencari kambing hitam,
  9. Proses / permainan yang baik adalah hal yang juga penting disamping hasil,
  10. Tetap berbuat dan berjuang meskipun persiapan belum sempurna,
  11. Hubungan baik pelatih dan yang dilatih,
  12. Berbagai kemungkinan bisa terjadi sebelum peluit akhir pertandingan ditiup,
  13. Reputasi tidak menjamin prestasi,
  14. Prestasi baik bisa diraih oleh siapapun (termasuk pemain cadangan),
  15. Menghargai lawan,
  16. Membangkitkan kebanggaan nasional,
  17. Membahagiakan,
  18. Tidak larut dalam kesedihan bila kalah.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Tulisan dibuat dengan referensi dari Kompas Update, Koran Tempo, Kompas Online, dan hasil nonton pertandingannya.

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kegigihan | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Petr Cech, Mengakui Kesalahan

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 17, 2008

Petr Cech pada saat Euro 2008 berlangsung dianggap sebagai salah satu kiper terbaik dunia. Namun, dia membuat kesalahan dalam pertandungan Cek melawan Turki di Stade de Geneve, Jenewa. Ia gagal menangkap bola dengan baik. Ia mengakui melakukan satu kesalahan elementer yang tak biasa terjadi. Ia kehilangan kontrol terhadap bola. Akibat dari kesalah itu Cek mengalami kekalahan 2-3 dari Turki, dan tersingkir.

———

Petr Cech memberikan contoh berani mengakui kesalahan dan tidak mencari kambing hitam atas kesalahan yang dibuatnya. Ini contoh seorang yang berjiwa basar.

Salam,

Wahyu budi Setyawan

Ditulis dalam Berjiwa Besar | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

David Beckham, berjiwa besar

Ditulis oleh namce8081 di/pada Mei 10, 2008

Prestasi di atas Reputasi

David Beckham mengatakan, manajer baru Fabio Capello mengubah budaya dalam skuad nasional Inggris dengan memilih pemain berdasarkan prestasi penampilan bukan reputasi.

Beckham tidak dimasukkan dalam skuad pertama Capello, namun akan tampil untuk kali ke-100 bagi timnas Inggris dalam pertandingan persahabatan melawan Perancis hari Rabu. Hanya empat pemain pernah tampil lebih dari 100 kali untuk kesebelasan nasional Inggris. Mereka adalah Billy Wright (105), Bobby Charlton (106), dan Bobby Moore (108) serta Peter Shilton (125).

“Dia mulai dengan bagus. Rezim berubah total dan para pemain telah mengakui hal itu,” kata Beckham yang bermain di tengah.

“Jika anda tidak bermain bagus dan tidak bereaksi, anda tidak akan ada di tim. Kami memiliki manajer yang memiliki keyakinan kuat,” tambah Beckham.

Beckham bertemu Capello untuk kali pertama sejak mereka sama-sama masih membela Real Madrid, pada hari Senin di basis pelatihan skuad Inggris, London Colney.

“Kami berjabat tangan dan menyenangkan bertemu dia sebab kali terakhir [kami bertemu] ketika bersuka cita di Bernabeu,” tutur Beckham.

Dan sang mantan pemain Real Madrid dan Manchester mengatakan, Inggris bisa berkembang di bawah pelatih Italia rersebut.

“Dia (Capello), tidak diragukan lagi, orang yang tepat untuk posisi di tim Inggris,” katanya.

“Dia memiliki cara sendiri, dia tahu cara membuat tim bermain. Itulah yang diperlukan negara kita. Kami perlu untuk merebut kembali kepercayaan bangsa,” tambah Beckham.

Inggris gagal mencapai babak semifinal dalam lima turnamen penting sejak Beckham, yang kini berumur 32 tahun, tampil kali pertama di tataran internasional tahun 1996.

Beckham menambahkan: “Memalukan bila kita menjanjikan beberapa hal sebagai tim dan tidak memenuhi potensi itu.”

(Sumber: [http://www.bbc.co.uk/indonesian/sports/story/2008/03/080325_beckhampraises.shtml]. Dikutip dengan modifikasi oleh Wahyu Budi Setyawan)

Ditulis dalam Berjiwa Besar | Bertanda: , , , | Leave a Comment »