Namce8081’s Weblog

Media Komunikasi, Informasi dan Berekspresi Alumni SMA 6 Yogyakarta Tahun 80-81 serta interaksi dg angkatan lain dan almamater

Arsip untuk ‘Fair Play’ Kategori

Melindungi Olahraga (Pelajaran dari Peru dan Indonesia)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Olahraga akan kehilangan rohnya bila di dalamnya tidak ada lagi fair play. Fair play tidak hanya dituntut dari para atlit di lapangan, tetapi juga dari para stakeholder, seperti: pemerintah dan media massa. Apa yang terjadi di Peru adalah pelajaran yang berharga untuk diabaikan. Selain itu, olahraga hendaknya juga dilindungi dari orang-orang yang terlibat masalah kriminal seperti yang terjadi di Indonesia

Tidak boleh ada politik

FIFA menghukum Peru tak boleh mengikuti laga internasional karena pertikaian antara pemerintah dan federasi sepak bola Peru. Jika Peru tidak juga menyelesaikan masalahnya, bukan tidak mungkin negara itu akan dikeluarkan keanggotaannya dari FIFA. Badan dunia sepak bola itu melarang adanya campur tangan politik dalam sepak bola.

Persoalannya adalah, Pemerintah Peru tidak mengakui terpilihnya Manuel Burga sebegai Presiden Federasi Sepak Bola Peru.

Media Massa dan Prestasi Olahraga

Persepakbolaan Peru terus terpuruk sejak masa kejayaan mereka tahun 1970-an. Negara ini tidak pernah masuk lagi ke babak final Piala Dunia sejak 1982. Perselisihan mengguncang publik Peru yang sebelumnya telah marah karena keghagalan tim nasilnal mereka.

Para pemain Peru sering dituding tidak disiplin. Namun, mereka sering mengeluh karena menjadi sasaran pelecehan dari tabloid dan stasiun televisi setempat.

Tidak boleh ada kriminal

Kasus Peru berbeda dengan kasus Indonesia. Untuk kasus Indonesia, FIFA tidak mengakui terpilihnya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dan meminta federasi sepak bola  Indonesia ini untuk segera melakukan pemilihan ulang. PSSI masih mempertahankan Nurdin Halid yang mendekam di penjara karena kasus korupsi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Referensi: Kompas, 26 Nopember 2008

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Kejujuran Montgomery (tidak ada kata terlambat)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Tim Montgomery (33) adalah seorang sprinter asal Amerika Serikat yang pernah menjadi pemegang rekor dunia 100 meter. Ia mengakui telah melakukan doping sebelum bertanding di Olimpiade XXVII 2000 Sydney pada nomor estafet 4 x 100 meter. Ia mengakui bahwa dirinya tidak berhak memperoleh medali emas Olimpiade Sydney estafet 4 x 100 meter yang diraihnya bersama Jon Drummond, Brian Lewis, dan Maurice Greene. Pengakuan itu disampaikannya pada tanggal 24 Nopember 2008 dalam wawancaranya dengan Bryant Gumbel dari televisi HBO untuk acara Real Sport di dalam ruang tahanannya.

Ia mengatakan: “Hal terpenting yang terjadi pada Olimpiade 2000 Sydney itu adalah saya telah melanggar peraturan, karena saya telah menggunakan testosterone. Di samping itu saya juga memakai HGH (Human Growth Hormone) empat kali setiap bulannya”. Ditambahkan, “Hasilnya saya mampu meraih medali emas. Namun, medali tersebut tidak saya peroleh karena kemampuan saya yang sesungguhnya.”

Pengakuan Montgomery ini dapat membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) membatalkan medali emas untuk nomor 4 x 100 meter. Termasuk menarik medali emas dari tim estafet AS yang terdiri dari Maurice Greene, Jon Drummond, Bernard William, Brian Lewis, dan Kenneth Brokenburr.

Montgomery mengucapkan penyesalannya: “Tentu keberadaan saya di sini karena kesalahan saya sendiri. Itu sebabnya saya ingin menyampaikan rasa penyesalan saya kepada semua orang atas kejadian ini.”

Referensi: Atletik, Kompas, 26 Nopember 2008

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

FAIR PLAY DAN KEJUJURAN: Menggugat Beckham

Ditulis oleh namce8081 di/pada September 21, 2008

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata tentang Fair Play dan Kejujuran yang dituntut dari seorang olahragawan, dan kebutuhan untuk mengatur strategi agar dapat bermain dalam suatu pertandingan. Apabila anda yang mengalaminya, apa yang akan anda lakukan?

Kisah ini, yang aslinya berjudul “Menggugat Beckham”, dikutip dengan modifikasi dari Koran Tempo, Kamis, 14 Oktober 2004, halaman 7. Silahkan mengikuti dan semoga bermanfaat.

————————–

Sekitar 65 ribu pasang mata jadi saksinya. Tapi mereka tidak menyadari yang terjadi sesungguhnya. Menit ke-83 pertandingan Inggris-Wales pada Kualifikasi Piala Dunia 2006 di Stadion Old Trafford, Manchester, Sabtu pekan lalu (9 Oktober 2004-red). Kapten nasional Inggris (ketika itu-red), David Beckham, tiba-tiba menabrakkan tubuhnya dengan kasar ke arah pemain belakang Wales, Ben Thatcher. Kedua pemin jatuh, Beckham meringis sambil memegang rusuk kirinya. Wasit Terje Hauge mengeluarkan kartu kuning untuk Beckham.

Beckham masih dapat bermain dua menit lagi sebelum ditarik keluar oleh pelatihnya, Sven-Goran Eriksson. Itu karena Beckham tak kuasa menahan sakit di rusuknya. Sampai di sini tak ada persoalan. Barulah esok hari “bom” itu meledak. Kepada Harian Daily Telegraph gelandang Real Madrid ini (ketika itu-red) mengaku. “Saya sudah merasakan sakit sebelumnya, jadi saya sengaja melanggar Thatcher,” katanya.

Satu kartu kuning sudah ia dapatkan sebelumnya saat lawan Austria, awal September. Dengan tambahan satu kartu lagi di pertandingan ini, Beckham alhasil tak boleh ikut lawatan Inggris ke Azerbaijan, Rabu ini (20 Oktober 2004-red). Beckham akhirnya punya dua keuntungan. Pertama, dia bisa istirahat. Kedua, setelah pertandingan Azerbaijan-Inggris, hukuman Beckham pun mengalami pemutihan.

Tapi tunggu dulu. Masalah tak berhenti sampai di situ. Di Baku, Azerbaijan, Presiden FIFA (ketika itu-red) Sepp Blatter mengecam keras tindakan Beckham itu. Menurutnya, tindakan Beckham melanggar nilai-nilai Fair Play. “Saya tidak bilang ini sebuah kiamat, tapi ini tetap menyakitkan bagi saya. Ia seorang yang menyandang predikat dua fair play juga figur untuk kaum muda di seluruh dunia. Saya tetap sukar mengerti ia benar-benar melakukan satu kesengajaan agar dikeluarkan dari satu pertandingan, dan kemudian mengakuinya. Saya sungguh-sungguh kecewa,” kata Blatter. Ia telah menitipkan masalah ini kepada Presiden FA (ketika itu-red), Geoff Thompson, agar mengambil tindakan yang memadai terhadap Beckham.

Beckham adalah icon di dunia hiburan sepak bola. Dia bukan sekadar pemain, tapi juga simbol kepahlawanan bagi sebagian besar anak-anak. Kerajaan Inggris pernah memberinya gelar OBE (Officer of the Order of the British Empire) kepadanya pada 2003 sebagai penghormatan akan pengabdiannya kepada negara. Bersama beberapa pemain tenar lain, FIFA membebaninya dengan gelar Duta Fair Play. Itu mungkin yang jadi beban pikiran Blatter.

Pelatih Wales (ketika itu-red), Mark Hughes, tak kalah tajam menyoroti. “Sangat mengejutkan saya, ini sebuah kenyataan yang terjadi di sebuah pertandingan. Membuat huru-hara dengan sebuah pikiran, semuanya akan selesai begitu saja. Mudahkah hal semacam ini diizinkan?” kata mantan striker Manchester United era 1980-an setengah bertanya.

Geoff Hurst, pahlawan Inggris pencetak tiga gol saat mengalahkan Jerman Barat di final Piala Dunia 1966, lebih sinis lagi. “Bila FIFA melihat itu, mereka pasti berpikir dia (Beckham) tengah membawa sepakbola ke sebuah kehinaan. Juga menghinakan negeri ini,” katanya berapi-api.

Rekan tim nasional sekaligus kapten kedua Inggris (ketika itu-red), Michael Owen, lebih berhati-hati bicara soal seniornya itu. “Ini masalah pelik. Jika saya menyebut benar atau salah, itu harus diletakkan pada konteks benar atau salah itu sendiri,” kata striker Liverpool (ketika itu-red) itu.

Eriksson lain lagi. Sebagai pelatih, ia harus melindungi anak buahnya. Dan sebagai teman, sudah terbukti, Beckham selalu membelanya saat Eriksson menghadapi masa-masa sulit sehubungan dengan isu skandal perselingkuhannya dengan dua wanita di luar pacarnya, Nancy Dell’Ollio.

“Kita tak hidup di dunia yang sempurna,” kata pelatih asal Swedia ini. “Saat seorang pemain memutuskan untuk mencari kartu agar tidak bermain di pertandingan selanjutnya, maka ia akan melakukannya, baik kita salahkan atau tidak. Kita tidak bisa menutup mata untuk itu. Saya yakin, hal semacam ini sudah lazim, bahkan lebih banyak terjadi di sepakbola profesional daripada amatir.”

Polemik wacana masih berjalan (ketika itu-red). (Sekarang) tinggal FA dan FIFA untuk memutuskan. Yang jelas, satu hal harus diacungi jempol dari Beckham: kejujuran. Keberanian pemain berusia 29 tahun (ketika itu-red) untuk mengatakan yang sesungguhnya layak mendapat nilai lebih.

Saat melakukannya, toh, ia juga tidak terlalu keras terhadap Thatcher. Bahkan, sebenarnya, cedera rusuk Beckham sendiri yang bertambah parah. Bila bisa disebut “ganjaran”, maka cedera itu memang pntas diterima. Terapi terhadap rusuknya bisa memakan waktu satu hingga enam pekan.

Tapi pelatih Sheffield United (ketika itu-red), Neil Warnock, punya pendapat lain. “Semua pelatih tak asing dengan kejadian seperti itu, seorang pemain mencari kartu agar bisa bebas main pada dua partai lagi. Itu biasa. Seharusnya, dia tak usah ngomong……” Jadi?

—————–

Demikian sebuah kisah tentang menegakkan Fair Play, Kejujuran, dan mengatur strategi agar dapat bermain. Suatu pilihan yang tidak mudah dilakukan.

Bagaimana penyelesaian akhir dari masalah itu? Mohon maaf, saya tidak mengetahuinya.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Sofi, Wakili DIY dalam Porseni Karate

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juli 14, 2008

09/07/2008 08:56:02

YOGYA (KR) – http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=170111&actmenu=41

Dari sekian banyak calon karateka masa depan DIY yang berpotensi, di antaranya adalah Sofia Nabila. Namanya begitu indah, secantik orangnya. Jika melihat wajahnya, dia pantas menjadi selebritis panggung hiburan. Tapi situasinya berkata lain, diapun tersesat menjadi karateka yang jika terus dipupuk akan menjadi pesaing berat bagi karateka dari daerah lain.
Sofi begitu dia disapa, namanya terus berkibar. Itu tak lain, seiring dengan ukiran prestasinya yang begitu membanggakan. Siswi kelas XI SMAN 6 Yogya itu, sudah tidak asing lagi bagi lawannya yang turun di kelas kadet putri.
Jika menilik prestasinya ke belakang, Sofi telah mempersembahkan beberapa kali juara, di antaranya juara kejuaraan karate DIY/Jateng yang digelar UNY, Popda DIY, Sleman Cup dan banyak lagi kejuaraan karate yang diikutinya yang semua itu mampu menghasilkan prestasi yang menggembirakan. Dan Agustus 2008 mendatang, akan mewakili DIY dalam Porseni cabang Karate tingkat SMA di Jakarta. “Target saya menimal masuk tiga besar,” ucapnya mantap.    (Rar)-d

Ditulis dalam Aktifitas, Fair Play, Prestasi | Bertanda: , | Leave a Comment »

Pelajaran dari Sepak Bola (2)

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 21, 2008

Euro 2008 ini ternyata memberikan banyak pelajaran bagi kita yang mau mengambil pelajaran dari pertandingan-pertandingan yang telah berlangsung.

Pada kesempatan ini kami mencoba mencatat apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari dua pertandingan dari Turki, yaitu pertandingan Turki vs Cek ketika menentukan kesebelasan yang akan masuk ke perempat final, dan pertandingan Turki vs Kroasia ketika penentuan kesebelasan yang akan masuk ke semi final.

Turki vs Cek

Sampai pada menit ke-74 di babak ke dua, Cek unggul atas Turki 2 – 0. Tetapi setelah itu, keadaan berbalik berubah. Pada menit ke-75, Turki menyarangkan gol balasan sehingga kedudukan menjadi 2 – 1. Kedudukan itu bertahan sampai menit ke-86. Selanjutnya, kondisi berubah sangat dramatis. Pada menit ke-87 dan ke-89 Turki mampu menyarangkan dua gol lagi sehingga keadaan menjadi 3 – 2 untuk kemenangan Turki, dan Cek tersingkir.

Gol Turki pada menit ke-87 itu terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh kiper Cek, Petr Cech. Kiper yang saat ini dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di dunia itu gagal menangkap bola. Ia kehilangan kontrol atas bola, bola terlepas dari tangannya dan jatuh di depan penyerang Turki yang langsung menyarangkan ke dalam gawang Cek.

Selanjutnya, ketika para pemain Cek belum pulih dari rasa terkejut, kapten kesebelasan Turki berhasil lolos dari perangkap offside dan menciptakan gol ke-3. Diakui oleh kiper Petr Cech bahwa gol yang terakhir ini adalah konsekuensi dari gol sebelumnya. “Kesalahan saya membuat shock semua orang,” ujarnya.

Diakui pula bahwa blunder Petr Cech memang sulit diterima, manum juga diakui bahwa kesalahan bukan sepenuhnya pada kiper itu. Diakui bahwa kebangkitan Turki tak lepas dari perubahan pola permainan kesebelasan Cek. Setelah unggul dua gol, kesebelasan Cek berhenti menyerang dan menjadi sangat bertahan.

“Saya belum pernah melihat tim yang permainan berubah drastis antara bbak pertama dan kedua,” ujar Ivo Viktor, kiper Cekoslowakia di Piala Eropa 1976. “Kami berhenti menekan dan memilih mundur ke belakang,” ujar mantan Pelatih Spartak Praha, Jaroslav Hrebik.

Turki vs Kroasia

Sampai berakhirnya waktu pertandingan 90 menit, kedudukan skor masih 0 – 0. Keadaan itu terus bertahan sampai babak pertama perpanjangan waktu berakhir dan berlanjut sampai 2 menit berakhirnya babak kedua perpanjangan waktu.

Pada menit ke-119, Kroasia merubah keadaan menjadi 1 – 0 untuk Kroasia, setelah Kroasia mencetak gol terlebih dahulu lewat pemain pengganti Ivan Klasnic di menit ke-119. Gol ini terjadi akibat kecerobohan Rustu, kiper Turki, meninggalkan gawangnya.

Tapi lagi-lagi Turki memperlihatkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang pantang menyerah. Hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, Semih Senturk berhasil membalas. Senturk berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Pletikosa.

Kedudukan berimbang 1- 1 setelah babak perpanjangan waktu akhrnya dilanjutkan dengan abu tendangan pinalti.

Gol balasan dari Turki ternyata itu meruntuhkan mental pemain Kroasia yang sudah sempat merasa menjadi pemenang. Hal itu terlihat ketika adu penalti, Kroasia hanya mampu mencetak gol melalui Dario Srna, sedangkan Luka Modric, Daniel Rakitic, dan Mladen Petric semuanya gagal.

Sementara, tiga penendang Turki Arda Turan, Semih Senturk, dan Hamit Altintop berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dan, kiper veteran Rustu Recber yang menjaga gawang Turki mampu menepis eksekusi Mladen Petric. Keberhasilan Rustu menggagalkan penalti Petric memastikan Turki lolos ke semi final.

Hasil pertandingan ini membuktikan semangat pantang menyerah Turki.

Fatih Terim magic touch continues…begitu kata-kata komentator dalam bahasa Inggris mengomentari keberhasilan Turki lolos ke semifinal setelah mengalahkan Kroasia lewat drama adu penalti.

——————————

Hasil-hasil prtandingan itu menunjukkan bahwa wajar jika Turki kemudian disebut sebagai The King of Comeback. “Tim kami memang belum sempurna. Tapi, sekali lagi kami bisa menunjukkan kemampuan bangkit dan berada di jalur yang tepat,” kata pemain Turki, Hamit Altintop.

“Ini untuk ketiga kalinya kami mampu bangkit dari ketertinggalan untuk kemudian memenangkan pertandingan. Jika kami mampu bermain seperti ini, maka segalanya menjadi mungkin buat kami,” tambah Altintop percaya diri.

Sementara itu pelatih Turki, Fatih Terim mengatakan, “Apa yang terjadi hari ini adalah keunikan sejarah sepakbola. Kami sudah menjadi salah satu tim sepakbola yang hebat. Rakyat kami bisa bahagia. Jika rakyat bangga terhadap kami, maka kami juga bangga kepada mereka.”

Pelatih Kroasia, Slaven Bilic, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Namun, dia cukup fair untuk memberi ucapan selamat kepada Turki. “Saya ucapkan selamat kepada Turki yang telah memenangkan pertandingan dan lolos ke semifinal. Saya tak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam dua menit terakhir, dua gol, juga adu penalti yang akhirnya dilakukan. Saya tetap bangga kepada para pemain karena telah menunjukkan permainan yang baik. Adu penalti adalah lotere dan kami kalah dalam lotere itu, meski sebenarnya pemain kami tetap percaya diri,” kata Bilic.

“Itu pertandingan yang luar biasa. Itulah sebabnya sepakbola menjadi olahraga paling populer di dunia. Tapi, rasa sakit atas kekalahan itu akan bertahan begitu lama,” tambah Bilic.

——————-

Hanya untuk mempertegas apa-apa yang telah diungkapkan di atas, inilah pelajaran yang dapat kita petik dari catatan pertadingan kesebelasan Turki itu:

  1. Percaya diri,
  2. Kekuatan mental,
  3. Semangat bertanding yang pantang menyerah,
  4. Kerja keras,
  5. Kerjasama dalam tim,
  6. Kemampuan untuk bangkit dari kekalahan,
  7. Fair Play, mengakui keunggulan lawan,
  8. Tidak mencari kambing hitam,
  9. Proses / permainan yang baik adalah hal yang juga penting disamping hasil,
  10. Tetap berbuat dan berjuang meskipun persiapan belum sempurna,
  11. Hubungan baik pelatih dan yang dilatih,
  12. Berbagai kemungkinan bisa terjadi sebelum peluit akhir pertandingan ditiup,
  13. Reputasi tidak menjamin prestasi,
  14. Prestasi baik bisa diraih oleh siapapun (termasuk pemain cadangan),
  15. Menghargai lawan,
  16. Membangkitkan kebanggaan nasional,
  17. Membahagiakan,
  18. Tidak larut dalam kesedihan bila kalah.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Tulisan dibuat dengan referensi dari Kompas Update, Koran Tempo, Kompas Online, dan hasil nonton pertandingannya.

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kegigihan | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Ujian Fair Play bagi Belanda

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 17, 2008

Pada Rabu, 18 Juni 2008 dini hari nanti waktu Indonesia Barat akan terjadi pertandingan penentuan kesebelasan yang akan maju ke perempat final Euro 2008. Perancis vs Italia, dan Belanda vs Rumania.

Dari pertandingan sebelumnya, Beanda teah dipastikan lolos ke perempat final setelah menang atas Italia dan Perancis. Jadi, apapun hasil pertandngannya melawan Rumania tidak akan mempengaruhi posisinya. Bagi Rumania, untuk dapat maju ke perempat final harus menang atas Belanda.

Sementara itu, bagi Perancis dan Italia, nasib keduanya sangat ditentukan oleh hasil pertandingan Belanda vs Rumania. Apabila Rumania menang, maka keduanya akan tersingkir. Apabila Rumania seri lawan Belanda, maka Perancis atau Belanda harus memang untuk dapat maju ke perempat final.

Kekhawatiran akan ketidak-jururan Belanda saat berhadapan dengan Rumania dapat dimengerti. Bagi Belanda, pertandingan melawan Rumania memberikan kesempatan untuk mendepak dua tim finalis Piala Dunia 2006.

“Ada kekhawatiran soal biscotto (main mata atau pengaturan hasil pertandingan),” kata gelandang Italia Daniel De Rossi.

“Kredibilitas seluruh turnamen dan sepak bola Eropa sedang dipertaruhkan. kalau Anda melihat baaimana Belnda mengalahkan Italia dan Perancis, maka partai lwan Rumania seharusnya berakhir sama.” Demikian Presiden FIGC Giancari Abete dikutip The Sun.

Tetapi, juru bicara UEFA William Gailard berkata, “Masuk akal kalau Belanda memainkan pemain cadangan. Anda tak bisa mengambil resiko kartu kuning. Anda mengistirahatkan pemain terbaik, beri kesempatan pada lainnya untuk unjuk gigi. Itu tidak melanggar aturan, cuma fakta kehidupan.”

Sementara itu, dipihak lain, Rumania tentu tidak akan tinggal diam. Tentu mereka akan berjuang keras untuk menang melawan Belanda.

———

Di sini Fair Play dari Belanda diuji. Dan, harga diri Rmania dipertaruhkan.

Pertandingan dini hari nanti akan memberikan jawaban.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

************

Hasil akhir pertandingan dini hari ini (jam 03.45):

Belanda (2) – Rumania (0)

Italia (2) – Perancis (0)

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Fair Play | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »

(Fair Play) Bermain Sungguh-sungguh dan Dapat Dipercaya

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 17, 2008

Euro 2008 dapat dijadikan salah satu contoh yang baik bagaimana Fair Play di terapkan dalam pertandingan sepak bola. Dengan penerapan Fair Play kita semua melihat pertandingan yang baik, menyenangkan dan memuaskan.

Kesungguhan dalam bertanding dan dapat dipercaya adalah hal-hal yang penting dalam Fair Play.

Pada kesempatan Euro 2008, kita dapat melihat bagaimana Fair Play diperlihatkan oleh para Pemain dengan “Dua Hati”, yang kami kutip dari Koran Tempo, Senin, 16 Juni 2008.

Lukas Podolski

Podolski adalah pemain penyerang Jerman keturunan Polandia. Pada umur dua tahun, ia dibawa oleh orang tuanya bermigrasi ke Jerman.

Pada pertandingan perdana Grup B, Jerman vs Polandia, ia mencetak dua gol ke gawang Polandia. Satu hatinya yang berada di Polandia menyebabkab ia hanya muram tanpa senyum dan menundukkan wajah setelah mencetak gol. “Keluarga besr saya di Polandia. Saya memiliki kedekatan emosional dengan Polandia,” kata Podolski.

Hakan Yakin

Yakin adalah pemain Swiss. Dia memegang paspor Swiss karena keturunan.

Yakin mencetak gol ke gawang Turki tanpa meluapkan kegembiraan. Sebaliknya, ketika gagal mencetak gol ketika mendapat peluang emas, Yakin tidak menunjukkan kekecewaan yang berlebihan. “Itu normal bila keluarga Anda, ibu Anda, dan teman-teman dekat Anda tinggal di Turki,” kata Yakin. “Di dalam kepala, saya merayakan selebrasi bersama Swiss, tapi saya tak mau menunjukkannya. Itu cukup adil untuk menghormai Turki, negara yang menjadi bagian dari diri saya.”

———-

Contoh dari kedua pemain tersebut menunjukkan bagaimana kesungguhan mereka bermain dan dapat dipercaya. Dua hal yang penting dalam Fair Play.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Fair Play | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »

(Fair Play) Johnson Serahkan Medali

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 5, 2008

Fair Play adalah semangat utama dari olahraga yang sangat didambakan dapat diterapkan oleh semua atlit dari semua cabang olahraga. Tanpa fair play, olahraga kehilangan nilai hakikinya.
Pada kesempatan ini kita mendapat sebuah contoh yang sangat baik tentang bagaimana fair play diterapkan oleh seorang atlit kelas dunia.
Tulisan ini saya kutip dari Harian Kompas, Olahraga, tanggal 4 Juni 2008.
Semoga bermanfaat.
Wahyu Budi Setyawan
————————————-
Kompas, Olahraga, Rabu, 4 Juni 2008 | 01:26 WIB

London, Selasa – Mantan juara dunia sembilan kali dan pemegang tiga rekor dunia lari, Michael Johnson, mengalami kekecewaan mendalam. Ia merasa dikhianati oleh rekan satu timnya yang memakai doping kala Amerika Serikat memenangi emas lari estafet 4 x 400 meter Olimpiade Sydney 2000.

Johnson, yang pensiun pada 2001, akhirnya mengambil keputusan yang mungkin terasa sangat berat bagi dirinya. Walau dirinya tak terlibat dalam doping, ia akan mengembalikan emas 4 x 400 meter Sydney 2000 kepada Komite Olimpiade Internasional.

”Saya tahu medali itu dimenangi dengan cara yang tidak benar dan dengan cara yang kotor. Saya harus memindahkan medali itu dari tempat saya menyimpannya karena bukan di sana medali itu seharusnya berada,” ujar Johnson dalam kolomnya di media Inggris, Daily Telegraph, Selasa (3/6).

Johnson meraih emas 4 x 400 meter Sydney 2000 bersama Antonio Pettigrew, Alvin Harrison, dan Calvin Harrison. Pettigrew, pekan lalu, bersaksi dalam sidang pengadilan pelatih Trevor Graham dan menyatakan dirinya memakai doping jenis HGH (human growth hormone) dan EPO (erythropoietin) pada 1997-2001.

Pada 2004, kembar Alvin dan Calvin Harrison dijatuhi hukuman larangan berlomba gara-gara terbukti memakai doping. Alvin dilarang berlomba selama empat tahun, sedangkan Calvin tidak boleh ikut perlombaan selama dua tahun sejak tahun 2004.

Anggota tim estafet AS yang tak berlomba pada final, Jerome Young, juga gagal dalam tes doping. Pada tahun 2004, ia dihukum tak boleh ikut berlomba seumur hidup. Medali yang diraihnya pada 26 Juni 1999-5 Juni 2001 juga dicabut.

Hukuman atas Harrison bersaudara dan Young, serta terakhir kesaksian Pettigrew, tampaknya membuat tak ada pilihan bagi Johnson selain mengembalikan medali emas yang diraihnya di nomor estafet 4 x 400 meter Sydney 2000. ”Saya akan mengembalikannya karena saya tidak menginginkannya. Saya merasa dicurangi dan dikhianati,” tegas Johnson, yang pada Olimpiade 2000 juga meraih emas lari 200 meter dan 400 meter.

Langkah mengembalikan medali dengan sukarela, menurut Johnson, tak lepas dari kemungkinan munculnya permintaan agar tim estafet putra 4 x 400 meter AS pada Olimpiade 2000 mengembalikan emas mereka, menyusul kesaksian Pettigrew.

”Setelah mendengar banyak berita atlet yang berbuat curang selama beberapa tahun terakhir, saya sampai pada titik tak lagi merasa kaget. Namun, yang satu ini berbeda. Ia (Pettigrew) adalah orang yang selama ini saya anggap sebagai sahabat,” ujar Johnson, yang kini menjadi pengamat atletik di televisi. Ia juga dikenal sebagai pengecam keras atlet pemakai doping

Pelatih Trevor Graham diadili karena dituduh memberi keterangan palsu kepada agen federal yang tengah menyelidiki penyebaran doping di kalangan atlet top AS. Graham merupakan pelatih atlet top Justin Gatlin dan Marion Jones yang telah dihukum gara-gara kasus doping. (afp/reuters/ato)

Ditulis dalam Fair Play | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »