Namce8081’s Weblog

Media Komunikasi, Informasi dan Berekspresi Alumni SMA 6 Yogyakarta Tahun 80-81 serta interaksi dg angkatan lain dan almamater

Arsip untuk ‘Kegigihan’ Kategori

Pelajaran dari Piala Konfederasi 2009: Bola bundar, optimis

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juli 8, 2009

Berikut ini adalah kisah tentang “Bola bundar”, kisah tentang optimisme. Dalam pertandingan olahraga bukan matematika yang menentukan kemenangannya, tetapi yang terbaik saat bertandinglah yang akan menang. Itulah yang dapat kita pelajari dari kisah kemenangan Amerika Serikat atas Spanyol dalam semifinal Piala Konfederasi 2009 yang lalu.

Inilah kisah itu. Semoga bermanfaat.

Optimisme itu kiranya juga mewarnai kesebelasan sepakbola Amerika dalam Kejuaraan Piala Konfederasi. Di awal pertandingan mereka kalah 3-1 dari Italia, dan 3-0 dari Brazil; tetapi kemudian bangkit mengalahkan Mesir 3-0, dan Spanyol 2-0. Dengan mengalahkan Spanyol, Amerika maju ke final melawan Brazil.

Dalam dunia politik dan ekonomi, Amerika Serikat memang negara superpower. tetapi, dalam dunia sepak bola, Amerika adalah negara berkembang, sedang Spanyol adalah negara superpower.  Oleh karena itu adalah sebuah sensasi yang besar bila Amerika mengalahkan Spanyol.

Di dalam dunia sepakbola, Spanyol memang layak diberi gelar sebagai superpower. Dalam tiga tahun terakhir, hanya sekali Spanyol dikalahkan Romanis pada 16 Nopember 2006. Setelah itu, dalam 35 pertandingan mereka tidak pernah kalah. Menjelah Piala Konfederasi 2009 ini, 15 kali berturut-turut mereka menang. Kata penyerang Spanyol, Fernando Torres, “Kemenangan berturut-turut itu bukan hanya karena kami bermain dengan baik, tetapi lebih karena secara manusiawi kesebelasan kami luar biasa harminis. Kami saling mengenal satu sama lain sejak kami bermain dalam tim yunior.”

Dengan modal kemenangan yang demikian meyakminkan, ditambah dengan spirit kebersamaan yang demikian kental, Spanyol merasa pasti, mereka akan sampai ke final. “Kami akan menulis sejarah,” kata Torres menjelang pertandingan melawan Amerika Serikat. “Kami harus serius menghadapi Amerika walau terus terang kami sudah bermimpi akan bertemu dengan Brazil di final,” kata pelatih Vicente del Bosque.

Namun apa yang terjadi? Bukan Amerika Serikat yang dikalahkan oleh Spanyol, tetapi sebaliknya, Spanyol dikalahkan oleh Amerika Serikat.

Kemenangan Amerika Serikat atas Spanyol itu memang suatu keajaiban, namun, seperti diakui pelatih Jerman, Joachim Low, kemenangan itu juga disebabkan mereka mempunyai organisasi permainan yang amat rapi dan efektif, serta mereka mempunyai semangat juang yang gigih. Dan, khas bagi orang Amerika, di balik semangat juang itu adalah rasa optimis yang luar biasa.

————–

Sumber:

Ditulis ulang dari Catatan Sepak Bola berjudul “Optimisme Yes We Can” oleh Sindhunata. Kompas, 28 Juni 2009, hal 8.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam FALSAFAH OLAHRAGA, Kebersamaan, Kegigihan, Optimis | Bertanda: , , , , , , | 1 Komentar »

Pelajaran dari Sepak Bola (2)

Ditulis oleh namce8081 di/pada Juni 21, 2008

Euro 2008 ini ternyata memberikan banyak pelajaran bagi kita yang mau mengambil pelajaran dari pertandingan-pertandingan yang telah berlangsung.

Pada kesempatan ini kami mencoba mencatat apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari dua pertandingan dari Turki, yaitu pertandingan Turki vs Cek ketika menentukan kesebelasan yang akan masuk ke perempat final, dan pertandingan Turki vs Kroasia ketika penentuan kesebelasan yang akan masuk ke semi final.

Turki vs Cek

Sampai pada menit ke-74 di babak ke dua, Cek unggul atas Turki 2 – 0. Tetapi setelah itu, keadaan berbalik berubah. Pada menit ke-75, Turki menyarangkan gol balasan sehingga kedudukan menjadi 2 – 1. Kedudukan itu bertahan sampai menit ke-86. Selanjutnya, kondisi berubah sangat dramatis. Pada menit ke-87 dan ke-89 Turki mampu menyarangkan dua gol lagi sehingga keadaan menjadi 3 – 2 untuk kemenangan Turki, dan Cek tersingkir.

Gol Turki pada menit ke-87 itu terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh kiper Cek, Petr Cech. Kiper yang saat ini dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di dunia itu gagal menangkap bola. Ia kehilangan kontrol atas bola, bola terlepas dari tangannya dan jatuh di depan penyerang Turki yang langsung menyarangkan ke dalam gawang Cek.

Selanjutnya, ketika para pemain Cek belum pulih dari rasa terkejut, kapten kesebelasan Turki berhasil lolos dari perangkap offside dan menciptakan gol ke-3. Diakui oleh kiper Petr Cech bahwa gol yang terakhir ini adalah konsekuensi dari gol sebelumnya. “Kesalahan saya membuat shock semua orang,” ujarnya.

Diakui pula bahwa blunder Petr Cech memang sulit diterima, manum juga diakui bahwa kesalahan bukan sepenuhnya pada kiper itu. Diakui bahwa kebangkitan Turki tak lepas dari perubahan pola permainan kesebelasan Cek. Setelah unggul dua gol, kesebelasan Cek berhenti menyerang dan menjadi sangat bertahan.

“Saya belum pernah melihat tim yang permainan berubah drastis antara bbak pertama dan kedua,” ujar Ivo Viktor, kiper Cekoslowakia di Piala Eropa 1976. “Kami berhenti menekan dan memilih mundur ke belakang,” ujar mantan Pelatih Spartak Praha, Jaroslav Hrebik.

Turki vs Kroasia

Sampai berakhirnya waktu pertandingan 90 menit, kedudukan skor masih 0 – 0. Keadaan itu terus bertahan sampai babak pertama perpanjangan waktu berakhir dan berlanjut sampai 2 menit berakhirnya babak kedua perpanjangan waktu.

Pada menit ke-119, Kroasia merubah keadaan menjadi 1 – 0 untuk Kroasia, setelah Kroasia mencetak gol terlebih dahulu lewat pemain pengganti Ivan Klasnic di menit ke-119. Gol ini terjadi akibat kecerobohan Rustu, kiper Turki, meninggalkan gawangnya.

Tapi lagi-lagi Turki memperlihatkan bahwa mereka adalah kesebelasan yang pantang menyerah. Hanya beberapa detik sebelum pertandingan berakhir, Semih Senturk berhasil membalas. Senturk berhasil memanfaatkan kemelut di depan gawang Pletikosa.

Kedudukan berimbang 1- 1 setelah babak perpanjangan waktu akhrnya dilanjutkan dengan abu tendangan pinalti.

Gol balasan dari Turki ternyata itu meruntuhkan mental pemain Kroasia yang sudah sempat merasa menjadi pemenang. Hal itu terlihat ketika adu penalti, Kroasia hanya mampu mencetak gol melalui Dario Srna, sedangkan Luka Modric, Daniel Rakitic, dan Mladen Petric semuanya gagal.

Sementara, tiga penendang Turki Arda Turan, Semih Senturk, dan Hamit Altintop berhasil menjalankan tugas dengan baik. Dan, kiper veteran Rustu Recber yang menjaga gawang Turki mampu menepis eksekusi Mladen Petric. Keberhasilan Rustu menggagalkan penalti Petric memastikan Turki lolos ke semi final.

Hasil pertandingan ini membuktikan semangat pantang menyerah Turki.

Fatih Terim magic touch continues…begitu kata-kata komentator dalam bahasa Inggris mengomentari keberhasilan Turki lolos ke semifinal setelah mengalahkan Kroasia lewat drama adu penalti.

——————————

Hasil-hasil prtandingan itu menunjukkan bahwa wajar jika Turki kemudian disebut sebagai The King of Comeback. “Tim kami memang belum sempurna. Tapi, sekali lagi kami bisa menunjukkan kemampuan bangkit dan berada di jalur yang tepat,” kata pemain Turki, Hamit Altintop.

“Ini untuk ketiga kalinya kami mampu bangkit dari ketertinggalan untuk kemudian memenangkan pertandingan. Jika kami mampu bermain seperti ini, maka segalanya menjadi mungkin buat kami,” tambah Altintop percaya diri.

Sementara itu pelatih Turki, Fatih Terim mengatakan, “Apa yang terjadi hari ini adalah keunikan sejarah sepakbola. Kami sudah menjadi salah satu tim sepakbola yang hebat. Rakyat kami bisa bahagia. Jika rakyat bangga terhadap kami, maka kami juga bangga kepada mereka.”

Pelatih Kroasia, Slaven Bilic, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Namun, dia cukup fair untuk memberi ucapan selamat kepada Turki. “Saya ucapkan selamat kepada Turki yang telah memenangkan pertandingan dan lolos ke semifinal. Saya tak bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam dua menit terakhir, dua gol, juga adu penalti yang akhirnya dilakukan. Saya tetap bangga kepada para pemain karena telah menunjukkan permainan yang baik. Adu penalti adalah lotere dan kami kalah dalam lotere itu, meski sebenarnya pemain kami tetap percaya diri,” kata Bilic.

“Itu pertandingan yang luar biasa. Itulah sebabnya sepakbola menjadi olahraga paling populer di dunia. Tapi, rasa sakit atas kekalahan itu akan bertahan begitu lama,” tambah Bilic.

——————-

Hanya untuk mempertegas apa-apa yang telah diungkapkan di atas, inilah pelajaran yang dapat kita petik dari catatan pertadingan kesebelasan Turki itu:

  1. Percaya diri,
  2. Kekuatan mental,
  3. Semangat bertanding yang pantang menyerah,
  4. Kerja keras,
  5. Kerjasama dalam tim,
  6. Kemampuan untuk bangkit dari kekalahan,
  7. Fair Play, mengakui keunggulan lawan,
  8. Tidak mencari kambing hitam,
  9. Proses / permainan yang baik adalah hal yang juga penting disamping hasil,
  10. Tetap berbuat dan berjuang meskipun persiapan belum sempurna,
  11. Hubungan baik pelatih dan yang dilatih,
  12. Berbagai kemungkinan bisa terjadi sebelum peluit akhir pertandingan ditiup,
  13. Reputasi tidak menjamin prestasi,
  14. Prestasi baik bisa diraih oleh siapapun (termasuk pemain cadangan),
  15. Menghargai lawan,
  16. Membangkitkan kebanggaan nasional,
  17. Membahagiakan,
  18. Tidak larut dalam kesedihan bila kalah.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Tulisan dibuat dengan referensi dari Kompas Update, Koran Tempo, Kompas Online, dan hasil nonton pertandingannya.

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kegigihan | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Kunitsyn, Gigih dari Awal sampai Akhir

Ditulis oleh namce8081 di/pada Mei 11, 2008

Ini kisah kegigihan

Petenis “bukan siapa-siapa” asalh Rusia, Igor Kunitsyn, menyelesaikan salah satu pertandingan terbaik sepanjang karirnya dengan menghempaskan unggulan kedua, Tommy Haas, 5-7, 6-4, 6-4, Selasa (15/4), pada baba pertama Kejuaraan Tenis Lapangan Tanah Liat di Houston, AS. Haas menyerah dalam partai yang berlangsung 2 jam 48 menit.

“Ini benar-benar salah satu kemenangan yang paling berkesan. Saya bertarung gigih sejak poin pertama hingga akhir. Saya juga tak pernah memberinya angka dengan gratis dan saya pikir saya telah menjalani semua ini dengan sukses,” kata Kunitsyn, yang kini menghuni peringkat ke-111 dunia. Adapun Haas, petenis asal Jerman, tak lain adalah juara pada Kejuaraan Tenis Lapangan Tanah Liat 2004 dan pernah menempati urutan ketiga dunia.

(Sumber: Harian KOMPAS, 17 April 2008 hal. 29. Si “Bukan Siapa-siapa” Kunitsyn Tumbangkan Haas. Dikutip sebagian oleh Wahyu Budi Setyawan)

———-

Reputasi tidak menjamin kemenangan 0)

Ditulis dalam Kegigihan | Bertanda: , , , | Leave a Comment »