Namce8081’s Weblog

Media Komunikasi, Informasi dan Berekspresi Alumni SMA 6 Yogyakarta Tahun 80-81 serta interaksi dg angkatan lain dan almamater

Arsip untuk ‘Kejujuran’ Kategori

Sportsmanship: Sengaja mendapatkan hukuman, didenda.

Ditulis oleh namce8081 di/pada Desember 15, 2008

Sportsmanship adalah moral dalam olahraga yang harus terapkan dengan ketat demi menjada kualitas olahraga itu sendiri.  Salah satu aspek sportsmanship adalah komitmen yang penuh untuk berpartisipasi. Artinya antara lain adalah tampil pada saat latihan dan bertanding, bekerja keras dan sungguh-sungguh pada saat latihan dan bertanding, mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya.

Berikut ini adalah salah satu contoh bagaimana aspek sportsmanship itu ditegakkan di dalam dunia olahraga profesional. Bermain pura-pura atau sengaja mendapatkan hukuman ternyata sudah membuat seorang pemain dipandang melanggar disiplin dan dikenakan hukuman denda.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

—————–

UEFA mendenda dua pemain Olympique Lyon, Cris dan Juninho, JUmat (12/12) karena dengan sengaja mendapatkan kartu hukuman saat pertandingan Liga Champions melawan Fiorentina bulan lalu.

Panel Komisi Disiplin UEFA mendenda Cris sebesar 15.000 euro dan Juninho 10.000 euro setelah setelah kedua pemain tersebut mengakui perbuatan mereka pada pertandingan Grup F melawan Fiorentina 25 November lalu.

Pada pertandingan tersebut keduanya sengaja mendapatkan hukuman kartu kuning agar dapat pelarangan tampil saat tim mereka bertanding melawan Bayern Munich di pertandingan terakhir grup.

Cris dan Juninho masing-masing mendapat dua kartu kuning dalam pertandingan Liga Champions sebelum melawan Fiorentina dan bila mereka mereka mendapat kartu kuning ketiga maka mereka tidak boleh turun pada pertandingan pertama babak sistem gugur melawan Bayern.

Taktik kedua pemain dari Brasil itu mendapatkan kartu hukuman, agar mereka tidak turun pada laga terakhir dan kondisinya bersih saat timnya bermain pada babak sistem gugur.

UEFA mengatakan, kedua pemain itu diberi waktu tiga hari untuk naik banding sebelum dijatuhkan keputusan.

(Dikutip dari: MediaIndonesia.com, Jum’at 12 Desember 2008).

Ditulis dalam Etika, Kejujuran, Sportmanship | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Melindungi Olahraga (Pelajaran dari Peru dan Indonesia)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Olahraga akan kehilangan rohnya bila di dalamnya tidak ada lagi fair play. Fair play tidak hanya dituntut dari para atlit di lapangan, tetapi juga dari para stakeholder, seperti: pemerintah dan media massa. Apa yang terjadi di Peru adalah pelajaran yang berharga untuk diabaikan. Selain itu, olahraga hendaknya juga dilindungi dari orang-orang yang terlibat masalah kriminal seperti yang terjadi di Indonesia

Tidak boleh ada politik

FIFA menghukum Peru tak boleh mengikuti laga internasional karena pertikaian antara pemerintah dan federasi sepak bola Peru. Jika Peru tidak juga menyelesaikan masalahnya, bukan tidak mungkin negara itu akan dikeluarkan keanggotaannya dari FIFA. Badan dunia sepak bola itu melarang adanya campur tangan politik dalam sepak bola.

Persoalannya adalah, Pemerintah Peru tidak mengakui terpilihnya Manuel Burga sebegai Presiden Federasi Sepak Bola Peru.

Media Massa dan Prestasi Olahraga

Persepakbolaan Peru terus terpuruk sejak masa kejayaan mereka tahun 1970-an. Negara ini tidak pernah masuk lagi ke babak final Piala Dunia sejak 1982. Perselisihan mengguncang publik Peru yang sebelumnya telah marah karena keghagalan tim nasilnal mereka.

Para pemain Peru sering dituding tidak disiplin. Namun, mereka sering mengeluh karena menjadi sasaran pelecehan dari tabloid dan stasiun televisi setempat.

Tidak boleh ada kriminal

Kasus Peru berbeda dengan kasus Indonesia. Untuk kasus Indonesia, FIFA tidak mengakui terpilihnya Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dan meminta federasi sepak bola  Indonesia ini untuk segera melakukan pemilihan ulang. PSSI masih mempertahankan Nurdin Halid yang mendekam di penjara karena kasus korupsi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Referensi: Kompas, 26 Nopember 2008

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Kejujuran Montgomery (tidak ada kata terlambat)

Ditulis oleh namce8081 di/pada November 29, 2008

Tim Montgomery (33) adalah seorang sprinter asal Amerika Serikat yang pernah menjadi pemegang rekor dunia 100 meter. Ia mengakui telah melakukan doping sebelum bertanding di Olimpiade XXVII 2000 Sydney pada nomor estafet 4 x 100 meter. Ia mengakui bahwa dirinya tidak berhak memperoleh medali emas Olimpiade Sydney estafet 4 x 100 meter yang diraihnya bersama Jon Drummond, Brian Lewis, dan Maurice Greene. Pengakuan itu disampaikannya pada tanggal 24 Nopember 2008 dalam wawancaranya dengan Bryant Gumbel dari televisi HBO untuk acara Real Sport di dalam ruang tahanannya.

Ia mengatakan: “Hal terpenting yang terjadi pada Olimpiade 2000 Sydney itu adalah saya telah melanggar peraturan, karena saya telah menggunakan testosterone. Di samping itu saya juga memakai HGH (Human Growth Hormone) empat kali setiap bulannya”. Ditambahkan, “Hasilnya saya mampu meraih medali emas. Namun, medali tersebut tidak saya peroleh karena kemampuan saya yang sesungguhnya.”

Pengakuan Montgomery ini dapat membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) membatalkan medali emas untuk nomor 4 x 100 meter. Termasuk menarik medali emas dari tim estafet AS yang terdiri dari Maurice Greene, Jon Drummond, Bernard William, Brian Lewis, dan Kenneth Brokenburr.

Montgomery mengucapkan penyesalannya: “Tentu keberadaan saya di sini karena kesalahan saya sendiri. Itu sebabnya saya ingin menyampaikan rasa penyesalan saya kepada semua orang atas kejadian ini.”

Referensi: Atletik, Kompas, 26 Nopember 2008

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Berjiwa Besar, Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

FAIR PLAY DAN KEJUJURAN: Menggugat Beckham

Ditulis oleh namce8081 di/pada September 21, 2008

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata tentang Fair Play dan Kejujuran yang dituntut dari seorang olahragawan, dan kebutuhan untuk mengatur strategi agar dapat bermain dalam suatu pertandingan. Apabila anda yang mengalaminya, apa yang akan anda lakukan?

Kisah ini, yang aslinya berjudul “Menggugat Beckham”, dikutip dengan modifikasi dari Koran Tempo, Kamis, 14 Oktober 2004, halaman 7. Silahkan mengikuti dan semoga bermanfaat.

————————–

Sekitar 65 ribu pasang mata jadi saksinya. Tapi mereka tidak menyadari yang terjadi sesungguhnya. Menit ke-83 pertandingan Inggris-Wales pada Kualifikasi Piala Dunia 2006 di Stadion Old Trafford, Manchester, Sabtu pekan lalu (9 Oktober 2004-red). Kapten nasional Inggris (ketika itu-red), David Beckham, tiba-tiba menabrakkan tubuhnya dengan kasar ke arah pemain belakang Wales, Ben Thatcher. Kedua pemin jatuh, Beckham meringis sambil memegang rusuk kirinya. Wasit Terje Hauge mengeluarkan kartu kuning untuk Beckham.

Beckham masih dapat bermain dua menit lagi sebelum ditarik keluar oleh pelatihnya, Sven-Goran Eriksson. Itu karena Beckham tak kuasa menahan sakit di rusuknya. Sampai di sini tak ada persoalan. Barulah esok hari “bom” itu meledak. Kepada Harian Daily Telegraph gelandang Real Madrid ini (ketika itu-red) mengaku. “Saya sudah merasakan sakit sebelumnya, jadi saya sengaja melanggar Thatcher,” katanya.

Satu kartu kuning sudah ia dapatkan sebelumnya saat lawan Austria, awal September. Dengan tambahan satu kartu lagi di pertandingan ini, Beckham alhasil tak boleh ikut lawatan Inggris ke Azerbaijan, Rabu ini (20 Oktober 2004-red). Beckham akhirnya punya dua keuntungan. Pertama, dia bisa istirahat. Kedua, setelah pertandingan Azerbaijan-Inggris, hukuman Beckham pun mengalami pemutihan.

Tapi tunggu dulu. Masalah tak berhenti sampai di situ. Di Baku, Azerbaijan, Presiden FIFA (ketika itu-red) Sepp Blatter mengecam keras tindakan Beckham itu. Menurutnya, tindakan Beckham melanggar nilai-nilai Fair Play. “Saya tidak bilang ini sebuah kiamat, tapi ini tetap menyakitkan bagi saya. Ia seorang yang menyandang predikat dua fair play juga figur untuk kaum muda di seluruh dunia. Saya tetap sukar mengerti ia benar-benar melakukan satu kesengajaan agar dikeluarkan dari satu pertandingan, dan kemudian mengakuinya. Saya sungguh-sungguh kecewa,” kata Blatter. Ia telah menitipkan masalah ini kepada Presiden FA (ketika itu-red), Geoff Thompson, agar mengambil tindakan yang memadai terhadap Beckham.

Beckham adalah icon di dunia hiburan sepak bola. Dia bukan sekadar pemain, tapi juga simbol kepahlawanan bagi sebagian besar anak-anak. Kerajaan Inggris pernah memberinya gelar OBE (Officer of the Order of the British Empire) kepadanya pada 2003 sebagai penghormatan akan pengabdiannya kepada negara. Bersama beberapa pemain tenar lain, FIFA membebaninya dengan gelar Duta Fair Play. Itu mungkin yang jadi beban pikiran Blatter.

Pelatih Wales (ketika itu-red), Mark Hughes, tak kalah tajam menyoroti. “Sangat mengejutkan saya, ini sebuah kenyataan yang terjadi di sebuah pertandingan. Membuat huru-hara dengan sebuah pikiran, semuanya akan selesai begitu saja. Mudahkah hal semacam ini diizinkan?” kata mantan striker Manchester United era 1980-an setengah bertanya.

Geoff Hurst, pahlawan Inggris pencetak tiga gol saat mengalahkan Jerman Barat di final Piala Dunia 1966, lebih sinis lagi. “Bila FIFA melihat itu, mereka pasti berpikir dia (Beckham) tengah membawa sepakbola ke sebuah kehinaan. Juga menghinakan negeri ini,” katanya berapi-api.

Rekan tim nasional sekaligus kapten kedua Inggris (ketika itu-red), Michael Owen, lebih berhati-hati bicara soal seniornya itu. “Ini masalah pelik. Jika saya menyebut benar atau salah, itu harus diletakkan pada konteks benar atau salah itu sendiri,” kata striker Liverpool (ketika itu-red) itu.

Eriksson lain lagi. Sebagai pelatih, ia harus melindungi anak buahnya. Dan sebagai teman, sudah terbukti, Beckham selalu membelanya saat Eriksson menghadapi masa-masa sulit sehubungan dengan isu skandal perselingkuhannya dengan dua wanita di luar pacarnya, Nancy Dell’Ollio.

“Kita tak hidup di dunia yang sempurna,” kata pelatih asal Swedia ini. “Saat seorang pemain memutuskan untuk mencari kartu agar tidak bermain di pertandingan selanjutnya, maka ia akan melakukannya, baik kita salahkan atau tidak. Kita tidak bisa menutup mata untuk itu. Saya yakin, hal semacam ini sudah lazim, bahkan lebih banyak terjadi di sepakbola profesional daripada amatir.”

Polemik wacana masih berjalan (ketika itu-red). (Sekarang) tinggal FA dan FIFA untuk memutuskan. Yang jelas, satu hal harus diacungi jempol dari Beckham: kejujuran. Keberanian pemain berusia 29 tahun (ketika itu-red) untuk mengatakan yang sesungguhnya layak mendapat nilai lebih.

Saat melakukannya, toh, ia juga tidak terlalu keras terhadap Thatcher. Bahkan, sebenarnya, cedera rusuk Beckham sendiri yang bertambah parah. Bila bisa disebut “ganjaran”, maka cedera itu memang pntas diterima. Terapi terhadap rusuknya bisa memakan waktu satu hingga enam pekan.

Tapi pelatih Sheffield United (ketika itu-red), Neil Warnock, punya pendapat lain. “Semua pelatih tak asing dengan kejadian seperti itu, seorang pemain mencari kartu agar bisa bebas main pada dua partai lagi. Itu biasa. Seharusnya, dia tak usah ngomong……” Jadi?

—————–

Demikian sebuah kisah tentang menegakkan Fair Play, Kejujuran, dan mengatur strategi agar dapat bermain. Suatu pilihan yang tidak mudah dilakukan.

Bagaimana penyelesaian akhir dari masalah itu? Mohon maaf, saya tidak mengetahuinya.

Salam,

Wahyu Budi Setyawan

Ditulis dalam Fair Play, Kejujuran | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »