Berikut ini adalah sebuah kisah nyata tentang Fair Play dan Kejujuran yang dituntut dari seorang olahragawan, dan kebutuhan untuk mengatur strategi agar dapat bermain dalam suatu pertandingan. Apabila anda yang mengalaminya, apa yang akan anda lakukan?
Kisah ini, yang aslinya berjudul “Menggugat Beckham”, dikutip dengan modifikasi dari Koran Tempo, Kamis, 14 Oktober 2004, halaman 7. Silahkan mengikuti dan semoga bermanfaat.
————————–
Sekitar 65 ribu pasang mata jadi saksinya. Tapi mereka tidak menyadari yang terjadi sesungguhnya. Menit ke-83 pertandingan Inggris-Wales pada Kualifikasi Piala Dunia 2006 di Stadion Old Trafford, Manchester, Sabtu pekan lalu (9 Oktober 2004-red). Kapten nasional Inggris (ketika itu-red), David Beckham, tiba-tiba menabrakkan tubuhnya dengan kasar ke arah pemain belakang Wales, Ben Thatcher. Kedua pemin jatuh, Beckham meringis sambil memegang rusuk kirinya. Wasit Terje Hauge mengeluarkan kartu kuning untuk Beckham.
Beckham masih dapat bermain dua menit lagi sebelum ditarik keluar oleh pelatihnya, Sven-Goran Eriksson. Itu karena Beckham tak kuasa menahan sakit di rusuknya. Sampai di sini tak ada persoalan. Barulah esok hari “bom” itu meledak. Kepada Harian Daily Telegraph gelandang Real Madrid ini (ketika itu-red) mengaku. “Saya sudah merasakan sakit sebelumnya, jadi saya sengaja melanggar Thatcher,” katanya.
Satu kartu kuning sudah ia dapatkan sebelumnya saat lawan Austria, awal September. Dengan tambahan satu kartu lagi di pertandingan ini, Beckham alhasil tak boleh ikut lawatan Inggris ke Azerbaijan, Rabu ini (20 Oktober 2004-red). Beckham akhirnya punya dua keuntungan. Pertama, dia bisa istirahat. Kedua, setelah pertandingan Azerbaijan-Inggris, hukuman Beckham pun mengalami pemutihan.
Tapi tunggu dulu. Masalah tak berhenti sampai di situ. Di Baku, Azerbaijan, Presiden FIFA (ketika itu-red) Sepp Blatter mengecam keras tindakan Beckham itu. Menurutnya, tindakan Beckham melanggar nilai-nilai Fair Play. “Saya tidak bilang ini sebuah kiamat, tapi ini tetap menyakitkan bagi saya. Ia seorang yang menyandang predikat dua fair play juga figur untuk kaum muda di seluruh dunia. Saya tetap sukar mengerti ia benar-benar melakukan satu kesengajaan agar dikeluarkan dari satu pertandingan, dan kemudian mengakuinya. Saya sungguh-sungguh kecewa,” kata Blatter. Ia telah menitipkan masalah ini kepada Presiden FA (ketika itu-red), Geoff Thompson, agar mengambil tindakan yang memadai terhadap Beckham.
Beckham adalah icon di dunia hiburan sepak bola. Dia bukan sekadar pemain, tapi juga simbol kepahlawanan bagi sebagian besar anak-anak. Kerajaan Inggris pernah memberinya gelar OBE (Officer of the Order of the British Empire) kepadanya pada 2003 sebagai penghormatan akan pengabdiannya kepada negara. Bersama beberapa pemain tenar lain, FIFA membebaninya dengan gelar Duta Fair Play. Itu mungkin yang jadi beban pikiran Blatter.
Pelatih Wales (ketika itu-red), Mark Hughes, tak kalah tajam menyoroti. “Sangat mengejutkan saya, ini sebuah kenyataan yang terjadi di sebuah pertandingan. Membuat huru-hara dengan sebuah pikiran, semuanya akan selesai begitu saja. Mudahkah hal semacam ini diizinkan?” kata mantan striker Manchester United era 1980-an setengah bertanya.
Geoff Hurst, pahlawan Inggris pencetak tiga gol saat mengalahkan Jerman Barat di final Piala Dunia 1966, lebih sinis lagi. “Bila FIFA melihat itu, mereka pasti berpikir dia (Beckham) tengah membawa sepakbola ke sebuah kehinaan. Juga menghinakan negeri ini,” katanya berapi-api.
Rekan tim nasional sekaligus kapten kedua Inggris (ketika itu-red), Michael Owen, lebih berhati-hati bicara soal seniornya itu. “Ini masalah pelik. Jika saya menyebut benar atau salah, itu harus diletakkan pada konteks benar atau salah itu sendiri,” kata striker Liverpool (ketika itu-red) itu.
Eriksson lain lagi. Sebagai pelatih, ia harus melindungi anak buahnya. Dan sebagai teman, sudah terbukti, Beckham selalu membelanya saat Eriksson menghadapi masa-masa sulit sehubungan dengan isu skandal perselingkuhannya dengan dua wanita di luar pacarnya, Nancy Dell’Ollio.
“Kita tak hidup di dunia yang sempurna,” kata pelatih asal Swedia ini. “Saat seorang pemain memutuskan untuk mencari kartu agar tidak bermain di pertandingan selanjutnya, maka ia akan melakukannya, baik kita salahkan atau tidak. Kita tidak bisa menutup mata untuk itu. Saya yakin, hal semacam ini sudah lazim, bahkan lebih banyak terjadi di sepakbola profesional daripada amatir.”
Polemik wacana masih berjalan (ketika itu-red). (Sekarang) tinggal FA dan FIFA untuk memutuskan. Yang jelas, satu hal harus diacungi jempol dari Beckham: kejujuran. Keberanian pemain berusia 29 tahun (ketika itu-red) untuk mengatakan yang sesungguhnya layak mendapat nilai lebih.
Saat melakukannya, toh, ia juga tidak terlalu keras terhadap Thatcher. Bahkan, sebenarnya, cedera rusuk Beckham sendiri yang bertambah parah. Bila bisa disebut “ganjaran”, maka cedera itu memang pntas diterima. Terapi terhadap rusuknya bisa memakan waktu satu hingga enam pekan.
Tapi pelatih Sheffield United (ketika itu-red), Neil Warnock, punya pendapat lain. “Semua pelatih tak asing dengan kejadian seperti itu, seorang pemain mencari kartu agar bisa bebas main pada dua partai lagi. Itu biasa. Seharusnya, dia tak usah ngomong……” Jadi?
—————–
Demikian sebuah kisah tentang menegakkan Fair Play, Kejujuran, dan mengatur strategi agar dapat bermain. Suatu pilihan yang tidak mudah dilakukan.
Bagaimana penyelesaian akhir dari masalah itu? Mohon maaf, saya tidak mengetahuinya.
Salam,
Wahyu Budi Setyawan