PENGUMUMAN PEMENANG NATIONAL YOUNG INVENTOR AWARDS KE-3 TAHUN 2010

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?pengumuman&1287720544&&2010

Jumat, 22 Oktober 2010

Berdasarkan Keputusan Dewan Juri pada Pameran dan Wawancara Finalis NYIA ke-3 Tahun 2010 yang telah diselenggarakan pada tanggal 21 Oktober 2010, berikut Daftar Pemenang NYIA ke-3 Tahun 2010

 

  1. Ikhsan Brilianto, Andreas Diga, dan Ahmed Reza, SMAN 1 Yogyakarta, DIY, dengan judul karya “Plasmurator (Plasma-Generator ) Sebagai Peminimalisasi Emisi Kendaraan Bermotor yang Efektif dan Efisien”
  2. Eddy Yuristo, Reijefki Irlastua, dan Priyanka, SMA Plus Negeri 17 Palembang,Sumatera Selatan, dengan judul karya “Rotating Sprayer Herbicide, Inovasi Solusi Problematika Perkebunan Rakyat”
  3. Erlinda Nurul Kusuma, Maria Fransisca Simbolon, dan Delphine Yusticia Ratnasari, SMA Negeri 6 Yogyakarta, DIY, dengan judul karya “Potlangpuk dan Pengpuk Cara Baru Pemberian Pupuk Organik Praktis Higienis”

Pemenang akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti 7th International Exhibition for Young Inventors 2010 di Hanoi pada tanggal 15-18 Desember 2010

Dua Inventor lain yang akan berpartisipasi dalam ajang IEYI antara lain:

  1. Agata Nina Puspita dan Revi Serviyani Dina Pertiwi, SMA Stella Duce I, Yogyakarta, DIY, dengan judul karya “Kuas Penampung Cat”
  2. Adrian Zikri, Fajar Satria Pratama,dan Ilga Yulian Putra, SMA N 3 Padang, Sumatera Barat, dengan judul “GOSTA Gigi SMANTRI”
      LIPI akan menanggung biaya Tiket Jakarta-Hanoi p.p, akomodasi, dan konsumsi selama di Vietnam hanya untuk satu siswa sebagai perwakilan kelompok dalam ajang IEYI

Indonesia Juara Umum Lomba Penelitian Ilmiah Remaja

KRjigja.com Jumat, 16 April 2010 21:05:00
Ilustrasi : (Doc)

DENPASAR (KRjogja.com) – Indonesia berhasil menjadi juara umum pada Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia Ke-17 atau 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) pada 12-17 April 2010 di Denpasar, Bali. Tim Indonesia yang berkompetisi di semua bidang lomba, yakni Ilmu Fisika, Matematika, Komputer, dan Ekologi meraih tujuh medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu. Prestasi ini mengulang kesuksesan Indonesia pada ajang yang sama tahun lalu di Pszcyna, Polandia.

Tujuh medali emas masing-masing diraih oleh:

1. Florencia V.Vaniara/Evelyn L.Wibowo dengan judul penelitian Effect of Stem Cell and Mangosteen Peel Extact on Abnormal Cells,

2.Muhammad Kautsar/Dian Sartika Sari/Dhicha Putri Maharani/Hidayu Permata Hardi (Sweitenia Oil:The Use of Mahagony Seed os Bio-Oil Alternative and The Use of Production Waste as Electris Mosquito Repellent) siswa SMAN 6 Yogyakarta,

4. Oki Novendra (Mathematical Explamation on the Death of Michael Jackson),

5. Dwiky Rendra Graha Subekti (Big Match:” Suka Kelor” Caramel vs Malnutrition),

6. Sonny Lazuardi Hermawan (Portable Protection Everywhere), Miftah Yama Fauzan (Development of Smart Electric Gun with Adaptive Bullet Speed), dan

7. Andreas Widy Purnomo/Aldo Vitus Wirawan (Green Energy Source: Centripetal Water Turbine).

Sementara medali perak diraih oleh Aria Dhanang Dewangga dan medali perunggu masing-masing diraih oleh Dita Nurtjahya, Fauqia Tambunan/Bening Embun Pagi/Alan Suherman, dan Rizal Panji Islami/Fahmi Maulana Ainul Yakin/Ikhsan Britama. Tim Indonesia juga meraih best performance atas nama Dwiky Rendra Graha Subekti untuk bidang Environmental Sciences dan Ilham Naharudinsya/ Ardelia Djati Safira/Satria Putra Adhitama untuk bidang Basic Mathematics.

Untuk peringkat kedua diraih oleh Jerman dengan dua medali emas, satu medali perak, dan empat medali perunggu, sedangkan peringkat ketiga diraih oleh Rusia dengan dua medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu. Peringkat berikutnya berturut-turut ditempati Belanda, Belarusia, dan Polandia masing-masing meraih satu medali emas.

Sekretaris Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Bambang Indriyanto mengatakan, keberhasilan siswa Indonesia menjadi juara umum ini menunjukkan  bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara-nengara lain terutama Eropa Timur dan sebagian dari Eropa Barat seperti Jerman dan Belanda. “Kita tahu negara-negara Eropa Timur adalah negara-negara yang kuat di bidang sains, tapi kita menunjukkan bahwa kita lebih kuat dibandingkan dengan mereka,” ungkapnya usai penutupan acara penyerahan penghargaan pemenang di Hotel Inna Grand Bali Beach, Denpasar, Bali, Jumat (16/4).

Ajang ICYS ke-17 diikuti oleh 13 negara peserta dan 20 tim. Negara-negara peserta, yakni Belarusia, Brazil, Kroasia, Jerman, Georgia, Hongaria, Indonesia, Belanda, Polandia, Rumania, Rusia, Turki, dan Ukraina. Turut berpartisipasi enam negara observer, yakni Iran, Inggris, Thailand, Nigeria, Laos, dan Kamboja. Lomba ini diadakan setiap tahun guna menggali potensi peneliti muda yang kelak dapat berperan dalam penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.(ati)

Kaca : SMAN 6 YOGYA, BUKAN SEKOLAH RIBUT; ’The Research School of Jogja’

08/01/2008 04:30:57

KR

JANGAN berpikir bahwa SMAN 6 Yogyakarta saat ini sebagai sekolah biang ribut dan prestasi nol besar. Sekolah yang semula dikenal sering membuat keonaran kini telah mengikrarkan diri sebagai ‘The Research School of Jogja’, atau sekolah riset. Beragam prestasi di bidang Karya Ilmiah Remaja (KIR) membuat sekolah yang berdiri 27 Oktober 1949 ini tidak ragu untu menyebut diri sebagai ‘The Research School of Jogja’ yang pertama di Kota Yogyakarta.
Wakasek SMAN 6 Sukarma SPd menuturkan menurunnya tingkat kerusuhan tersebut berkat kerja sama dan kerja keras semua pihak. Termasuk siswa-siswinya yang menyadari bahwa keonaran tidak akan membawa keuntungan apa-apa. Dan untuk selanjutnya, diharapkan SMA 6 dapat meningkatkan prestasi karena semakin dekatnya SMA 6 menuju SMA mandiri. ”Sebagai sekolah yang berbasis penelitian, SMAN 6 membudidayakan kegiatan penelitian bagi siswa dan guru. Karena kegiatan penelitian dan menulis amat penting bagi seorang guru yang ingin naik golongan,” kata Sukarma SPd di ruang kerjanya SMAN 6 Yogyakarta Jl C Simanjuntak.
Lebih lanjut Sukarma SPd menuturkan, bahwa SMAN 6 Yogyakarta bisa disebut sebagai salah satu sekolah unggulan di Kota Yogyakarta, alasannya SMAN 6 adalah SMA yang memiliki jumlah kelas terbanyak di Yogya. Selain itu, fasilitasnya semakin lama semakin lengkap karena SMA 6 adalah salah satu sekolah rintisan kategori mandiri. Sekolah rintisan kategori mandiri adalah sekolah yang diharapkan dapat mandiri dalam setiap bidang. Contohnya, mampu membuat kurikulum sendiri.
Selain itu, prestasi yang dimiliki sekolah yang juga dikenal sebagai Namche (SMA C) sangat banyak baik ditingkat regional maupun nasional. Bahkan, pada tahun 2007 SMA 6 meraih 6 prestasi di tingkat nasional. Prestasi itu antara lain Juara I Toyota Eco Youth dalam rangka perbaikan lingkungan, Juara I Lomba KIR bidang IPTEK energi alternatif, Juara I karya tulis yang diselenggarakan oleh Menristek, Juara I Perkemahan Nasional di Jepara, dan untuk di bidang IPS, SMA 6 meraih juara II.
Prestasi tersebut tidak diraih dengan mudah, semakin kondusifnya situasi di sekolah dalam 4 tahun terakhir ini yang ditandai dengan meningkatnya ketertiban, serta kerja sama dari semua pihak baik guru, karyawan, dan komite sekolah semakin mendukung langkah SMAN 6 meraih prestasi di berbagai bidang. Selain itu fasilitas sekolah yang semakin lengkap dengan 21 ruangan kelas, 3 laboratorium IPA, 1 laboratorium bahasa, 2 laboratorium komputer, 2 ruang agama, 2 ruangan khusus, dan 1 ruangan perpustakaan 4 komputer yang tersedia untuk keperluan mencari info ataupun hanya sekedar browsing.
Sehari-hari kegiatan belajar mengajar dimulai pada pukul 07.15 tiap Senin-Sabtu dan kegiatannya dilakukan secara moving class, yaitu murid-murid menggunakan ruangan yang berbeda-beda untuk masing-masing mata pelajaran. (Kikin Sakinah MS)-c

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=148340&actmenu=46

Nyamplung, Energi Alternatif

KR 03/03/2008 08:24:25

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=154605&actmenu=35

INDONESIA memiliki keanekaragaman hayati dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satu dari flora yang hidup dan banyak ditemui di Indonesia adalah Nyamplung (Callophylum inaphylum) atau yang biasa di sebut Bintagur. Tanaman yang tumbuh subur di hutan tropis Indonesia selain nilainya sama dengan Meranti juga biasa dimanfaatkan sebagai kayu pertukangan. Sayangnya selama ini masih banyak yang belum menyadari biji nyamplung yang sudah tua ternyata memiliki kandungan minyak cukup tinggi. Dugaan itu semakin tampak jelas, karena setelah buah nyamplung disulut dengan api, tidak segera habis, namun dapat mempertahankan nyala api dalam jangka waktu yang lama.
”Akhir-akhir ini pemerintah melalui Kementrian Riset dan Teknologi mulai mengembangkan bahan bakar pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari tumbuhan. Terbatasnya persediaan dan kelangkaan minyak tanah diberbagai daerah menjadikan kami termotivasi untuk meneliti biji nyamplung. Tapi kami tidak pernah menyangka penelitian yang berjudul ‘Potensi Biji Nyamplung ditinjau dari segi ekonomis dan ekologis’ terpilih sebagai juara 1 Nasional Wisata Iptek tahun 2007,” jelas Aditya Prabhaswara dan Fathkur Rahman siswa kelas XII SMAN 6 Yogyakarta kepada KR
Menurut Aditya, selama ini pemanfaatan tumbuhan nyamplung lebih dominan pada kayu. Padahal jika dikelola dengam baik biji nyamplung yang sudah tua dapat mendatangkan nilai ekonomis (sebagai bahan bakar pengganti minyak) yang tidak menyebabkan polusi (jelaga), jadi sangat baik untuk kelestarian lingkungan. Pasalnya, berdasar penelitian yang dilakukan untuk setiap 1 Kg biji nyamplung yang sudah tua bisa menghasilkan 0,5 liter minyak. ”Dari penelitian yang kami lakukan 3 mililiter minyak tanah bisa digunakan selama 7 menit, sedangkan 3 mililiter minyak nyamplung bisa tahan sampai 13 menit. Dari perbandingan itu bisa dilihat bahwa minyak nyamplung lebih irit 75 persen dari minyak tanah. Tentunya tanpa perlu khawatir mengganggu ekologi karena tidak menimbulkan jelaga,” papar Adit.
Fathkur menambahkan, jika pengolahan biji nyamplung menjadi minyak dikembangkan bisa mendatangkan banyak keuntungan. Kelebihan minyak biji nyamplung selain hemat dalam proses pembakaran dan sumbernya dapat diperbaharui. Tumbuhannya tidak memerlukan perawatan khusus karena termasuk tumbuhan tropis.
Waktu ujian nasional (Unas) yang sudah semakin dekat menjadikan Aditya dan Fathkur lebih selektif dalam membagi waktu. Bahkan pada saat mendapatkan informasi tentang hasil perlombaan, mereka berdua sempat ragu-ragu untuk berangkat ke Jakarta. Mengingat pada hari yang sama mereka harus mengikuti latihan ujian yang diadakan oleh MKKS Kota Yogyakarta.
”Untungnya sekolah memberikan dispensasi pada kami untuk mengikuti ujian susulan, sehingga pada 28 Januari kemarin bisa tetap berangkat ke Jakarta,” jelas Adit. (R-5)-f