Kuliner Depok

Kiriman Radityo Djadjoeri
Kuliner Depok tumbuh cukup pesat, khususnya di sepanjang jalan utama, Margonda Raya. Banyak rumah makan ternama membuka cabang di sepanjang jalan ini. Namun ada juga yang merintis langsung di sana. Makanannya juga hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Lemang dari Sipirok, Sumatera Utara, hingga Kue Kamir dari Pemalang. Jangan lupa juga mencicipi Soto Ikan dan Pecak Ikan Mas yang nendang. Yuk, kita cari jajanan lain di Depok.

Soto Ikan Seafood Pulau 1000

Masih di jalan utama Depok, Margonda, Anda bisa mencicipi satu hidangan seafood yang punya gaya berbeda. Di rumah makan ini, kita bisa menemukan Soto berbahan seafood, lo. “Menu ini baru 3 bulanan kami luncurkan sebagai salah satu inovasi baru menu kami,” jelas Rini (32), pengelola Rumah Makan Seafood 1000 Pulau.

Soto Ikan tampil segar dengan kuah putih pucat bersemu kekuningan dari bumbu tumisan soto. Sementara di dalamnya tersembunyi potongan ikan segar yang lembut. Pilihan ikannya ada dua jenis, yaitu Ikan Kerapu dan Ikan Kakap. Jenisnya tinggal dipilih saja oleh pengunjung mana yang lebih disukai,” imbuhnya.

Untuk ikan kerapu menggunakan 1 ekor ikan berukuran sedang yang dipotong 4 bagian. Selanjutnya dimasak dalam kuah soto, lalu ditambahkan irisan tomat, daun bawang, dan bawang goreng menjelang disajikan. Sebuah jeruk limau yang diiris menancap manis di pinggir mangkuk, siap memberikan kesegaran. Sekilas penampilannya mirip dengan Soto Betawi. Apalagi Soto Ikan disajikan dengan tambahan sambal dan emping, persis dengan Soto Betawi. “Inspirasinya memang kami peroleh dari sajian Soto Betawi,” terang Rini.

Bedanya, daging dan jeroan pada Soto Betawi diganti ikan yang relatif lebih sehat. Kuahnya terasa gurih dan pedas. Penampilannya yang putih pucat juga tidak menggunakan santan, melainkan susu sapi sehingga kuahnya tidak berat. Seporsi Soto Ikan ditawarkan dengan harga Rp 15 ribu per mangkuk. Rasanya mantap, kuahnya harum, dan ikannya segar tanpa aroma amis sama sekali.

Selain Soto Ikan, tersedia menu seafood lain seperti udang, cumi, ikan, kepiting, hingga kerang yang bisa dimasak dengan aneka olahan seperti bakar, rebus, goreng, saus mentega, tiram, padang, hingga lada hitam. Rumah makan yang sudah berdiri 3 tahun ini terletak di Jl. Margonda Raya No. 330. Telp. (021) 752 2336. Dengan kapasitas pengunjung 50 orang, kedai ini siap melayani pelanggan mulai pukul 11.00-22.00.

Mi Bingung dan Aneka Pecak

Kuliner di wilayah Depok memang terpusat di daerah Margonda dan sekitarnya. Namun jangan hanya singgah di situ saja. Sebab di pinggiran Depok, banyak juga makanan khas dan tak kalah unik. Salah satunya kedai Mi Bingung yang terletak di Jl. Raya Muchtar, Sawangan. Telp. (021) 7024 2527. Letaknya tak jauh dari pintu gerbang kompleks perumahan Rivaria.

Di kedai ini ada menu Mi Bingung yang isinya sungguh ramai. Menyajikan Mi dalam tiga warna, yaitu hijau, oranye, dan merah. “Semua mi kami buat dari bahan tumbuhan asli,” terang Angga (25), pengelola kedai ini.

Mi hijau dibuat dari caisim, oranye dari wortel, dan merah dari buah bit. Ketiga jenis mi disajikan layaknya mi ayam, dengan tambahan jamur. bakso sapi, dan sebuah pangsit besar. Sementara kuahnya disajikan terpisah. Ketika disajikan terlihat warna-warni yang menarik, dan tentu saja sehat. Seporsi Mi Bingung ditawarkan dengan harga Rp 14 ribu. Omong-omong, mengapa dinamai bingung? Apakah karena warna-warni mi yang dicampur dalam satu mangkuk? “Kebetulan kami merintis usaha ini dari daerah Parung Bingung, Depok,” terangnya.

Jadilah mi ini disebut dengan Mi Bingung agar lebih menarik. Namun selain aneka olahan mi kedai ini juga menawarkan menu yang kini jadi tren di daerah Sawangan, yakni Pecak Ikan Mas. Sajian ini menawarkan ikan mas yang digoreng hingga renyah lalu disiram dengan saus pecak yang merah menyala, pertanda ada banyak cabai di sana. Benar saja, saat dicicipi, perasnya mantap!

Tak hanya pedas cabai yang turut serta dalam kuahnya. Ada jahe, lengkuas, cabai rawit hijau, hingga temu kunci yang memberi aroma khas dan berbedadari Pecak pada umumnya. Semua bumbu ditumbuk kasar, lalu direbus di dalam air hingga mendidih. Habis itu disiramkan di atas ikan mas goreng. Sangat nikmat penyuka ikan mas yang ingin mencicipinya dalam olahan berbeda. Seporsi Pecak ditawarkan Rp 10 ribu saja. Selain ikan mas, tersedia juga pecak ayam, terong hingga belut.

Kedai yang sudah 3 tahun berdiri ini buka mulai pukul 09.30-22.00 dengan kapasitas pengunjung sekitar 30 orang.

Lemang Juanda

Udara dingin paling nikmat tentu menikmati makanan yang tersaji panas atau punya efek menghangatkan badan. Mau coba hidangan yang jarang sekali penjualnya di Depok? Coba saja Anda pergi ke ruas jalan Juanda. Ada satu kedai sederhana yang mengepulkan asap pertanda sedang memanggang sesuatu. Di depannya, puluhan bambu jadi asesorisnya. Namun tak sekadar jadi hiasan, bambu ini berisi Lemang lezat khas daerah Sumatera.

Lemang adalah sajian berbahan beras ketan yang dimasak dengan campuran bumbu, garam, dan santan. Campuran adonan beras ketan ini lalu dimasukkan dalam tabung bumbu yang di dalamnya sudah dilapisi daun pisang. Kemudian dipanggang di atas bara selama kurang lebih 3 jam hingga matang dan bumbunya terserap. Rasanya gurih dan legit. Apalagi dicocolkan dengan pasangannya berupa tapai ketan hitam. Wah, rasanya mantap punya!

Rupanya H. Rambey (48) yang berinisiatif menjajakan penganan asal daerahnya. Pria asal Sipirok, Sumatera Utara ini kepingin menjual makanan yang sering dibuat di kampungnya. “Biasanya untuk sajian hari besar seperti Lebaran atau Natal,” ujarnya.

Usaha dirintisnya sudah 5 tahun. Namun baru 2 tahun belakangan menuai pelanggan yang cukup lumayan. Sehari, ia mengaku bisa menjual 15-20 bumbung bambu sepanjang 60 sentimeter ini. Selonjor Lemang dijual antara Rp 15 – 30 ribu, tergantung ukuran bambunya. Saat disajikan, Lemang dipotong-potong menjadi sekitar 15 potong yang bisa dikonsumsi 3-5 orang. “Lebaran kemarin saya sampai menghabiskan 250 bumbung bambu sehari,” kisahnya senang.

Agar lebih variatif, Rambey juga menawarkan Lemang yang dicampur pisang, durian, hingga rendang. Namun khusus yang ini harus melalui pemesanan dulu. Kedai sederhananya buka mulai pukul 08.00-21.00. Letak kedainya di Jl. Juanda No. 45. Telp. (021) 9133 4303 / 0878 7006 3272.

Nasi Goreng Hijau KedaiQu

Ada satu kedai yang konsepnya kental dengan suasana rumahan. Maklum saja, kedai ini memang ruang depan sebuah rumah yang disulap menjadi kedai lesehan yang nyaman. Namanya KedaiQu, terletak di Jl. Palakali No. 12, Telp. (021) 7870454.

Salah satu pemilik kedai ini, Mega (23) menuturkan, Nasi Gorengnya tidak menggunakan pewarna, melainkan pengaruh dari cabai hijau yang melimpah. “Jadi setelah digoreng warna hijaunya jadi merata pada nasi,” imbuhnya.

Seporsi Nasi Goreng Hijau dibuat dengan bumbu bawang merah, bawang putih, dan cabai hijau besar melimpah. Sementara kepedasannya bisa diatur dengan tambahan cabai rawit yang juga berwarna hijau. “Jadi mau sedang, pedas, atau pedas sekali, tinggal kita tentukan cabai rawitnya saja,” imbuhnya soal menu seharga Rp 10 ribu ini.

Sebagai campurannya, Nasi Goreng Hijau ada 4 jenis, yaitu Teri, Ayam, Teri Petai, dan nggak karuan. “Kalau yang nasi goreng nggak karuan ditambah dengan aneka sayuran hijau,” terangnya.

Nasi disajikan dengan irisan tomat, mentimun, selada, taburan bawang goreng, dan beberapa keping emping. Aroma cabai hijau segar benar-benar menimbulkan selera makan. Porsinya cukup besar. “Maklum saja, pangsa pasarnya memang lebih banyak mahasiswa,” imbuh Mega yang kedainya terletak di jalur pintu belakang Universitas Indonesia.

Selain Nasi Goreng, kedai ini juga punya beberapa menu bernama unik, seperti Nasi Buntel, Steak Gombal, sampai Dracula Macaroni. Yang terakhir ini penampilannya cukup atraktif dan disukai pelanggan. Penyajiannya berupa makaroni yang diaduk bersama susu dan mayones, lalu diselimuti telur dadar dan siraman saus spageti pedas. dan taburan keju.

KedaiQu memiliki 5 meja lesehan dengan kapasitas pengunjung mencapai 30 orang. Sejak bulan September, Mega membuka kedainya mulai pukul 11.00-22.00. “Sebelumnya kami buka hanya sore hari, mulai pukul 17.00,” jelas Mega yang mendirikan KedaiQu sejak tahun 2006 ini.

Bubur Sinar Garut

Kedai bubur ini tak kalah kondang di Depok. Maklum saja, kedai bubur dan es ini punya aneka jenis bubur yang variatif. Di dalam daftar menunya saja tercantum tak kurang dari 20 jenis bubur yang ditawarkan. Harganya mulai Rp 6 ribu-Rp 25 ribu per mangkuk, tergantung toping apa saja yang Anda pilih sebagai pelengkap bubur gurih ini.

Sebagai dasarnya, bubur disajikan dengan Cakue, Daging Ayam, Tongcay, merica bubuk, seledri, dan bawang goreng. Lalu ditaburi cheese stick yang renyah. Porsinya cukup besar hingga buburnya menyentuh pinggir mangkuk. Namun jika masih ingin lebih mantap, pilih saja toping tambahan sesuai selera. Pilihannya ada hati, ampela, usus, kornet, keju, telur ayam negeri, hingga telur ayam kampung. Semua jenis toping bisa divariasikan dan tentu saja berimbas pada harganya.

Salah satu yang cukup favorit adalah Bubur Ayam Kornet. Menyajikan bubur dengan komposisi dasar, namun ditambahkan kornet yang sudah ditumis dengan tambahan bumbu hingga teksturnya agak kering. Rasanya membuat bubur terasa makin lezat. Sungguh asyik dinikmati saat musim hujan seperti ini. Tak heran kapasitasnya yang hanya 30 pengunjung saja selalu ramai, terutama malam hari.

Usaha milik Bpk. AgusKumis Sifa ini sudah 6 tahun berdiri dan jadi salah satu temat jajan favorit di Depok.

Tak hanya bubur beraneka toping, kedai ini juga menawarkan penganan ringan lainnya seperti aneka es campur hingga roti bakar yang jenisnya tak kalah banyak. Apalagi jam operasionalnya cukup lama, mulai pukul 06.30-02.00. “Jadi mulai menu sarapan, makan malam, sampai tengah malam, semua menu selalu siap,” ujar Ikbal (23), pengelola kedai ini.
Nah, kalau sedang kelaparan di Depok kapan pun, sepertinya kedai ini bisa jadi pilihan. Letaknya di Jl. Margonda Raya No. 477, Pondok Cina, Depok.

Kue Kamir

Di beberapa ruas jalan di Kota Depok kini mulai ada jajanan baru. Namanya Kue Kamir yang berasal dari Pemalang, Jawa Tengah. Rupanya Ny Hamidah (39) yang mencoba mengenalkan penganan asal daerahnya di Depok. Hasilnya? “Cukup menggembirakan,” ujarnya senang.
Kue Kamir dibuat dari tepung terigu, mentega, dan tapai singkong. Ketiga bahan ini lalu diadoni, plus diberi sedikit tambahan gula dan garam. Setelah itu dipanggang dengan loyang khusus yang memiliki 7 cekungan untuk memanggang Kue Kamir. Sebelum adonan dipanggang, loyang berisi sedikit minyak agar tidak lengket.

Pemanggangan Kue Kamir harus telaten dan sabar, menggunakan api kecil. Jadi prosesnya cukup lama, bisa mencapai 10-15 menit. “Jadi kadang-kadang saya sebut juga kue sabar,” ujarnya sambil tertawa.

Penggunaan api kecil sangan penting agar kue matang hingga ke dalam. Saat matang, Kue Kamir menggembung besar dan empuk sekali. Saat disantap terasa lembut, gurih, dengan aroma tapai singkong yang samar-samar. “Di Pemalang, kue ini kerap jadi camilan sore atau pagi,” ujarnya.

Sejak berjualan Februari 2010 lalu, perkembangannya cukup baik. Beberapa kali, ia sudah bekerja sama membuka gerai kue kamir di sejumlah willayah Depok.

Kue Kamir bisa tahan sampai 2 hari, dan masih tetap empuk. Harganya dipatok Rp 5 ribu untuk 4 buah Kue Kamir yang cukup besar. Kedai mungilnya terletak di Jl. Nusantara Raya No. 135. Hp. 0819 3181 5102 – 0878 8463 7476. Hamidah membuka kedainya pagi mulai pukul 05.30-12.00. Kemudian dilanjutkan mulai pukul 13.00-21.00 untuk periode kedua. “Kalau di Depok, banyak sekali yang membekal Kue Kamir untuk sarapan,” tandasnya.

Tulisan & Foto: Miftakh Faried
Tata Letak: Benyamin W.

Person quoted: Rini (pengelola RM Seafood 1000 Pulau) . Angga (pengelola Kedai Mi Bingung) . H. Rambey (pemilik kedai Lemang Juanda) . Mega (pemilik KedaiQu) . Ikbal (pengelola kedai Bubur Sinar Garut) . Ny. Hamidah (pemilik kedai Kue Kamir)

Kuliner Solo

info kuliner 13 – 26 Agustus 2010
Kiriman:Radityo

Ketika mendengan kata Surakarta mungkin Anda tak akan terlalu familiar dibanding dengan Solo. Ya, siapa yang tak kenal kota indah yang dialiri sungai Bengawan Solo ini. Awalnya, kota ini bernama Surakarta namun nama Sala atau Solo mulai populer di masyarakat sejak Belanda memberlakukan struktur pemerintahan dobel di Surakarta akibat perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti ini membuat pemerintahan Surakarta terpecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Daerah Kasunanan Surakarta inilah yang akhirnya berkembang menjadi kota Solo. Nama ini diambil dari nama desa tempat berdirinya Keraton Surakarta yaitu Desa Sala.
Hampir semua orang, pastinya mengidentikkan makanan Solo memiliki citarasa makanan yang cenderung manis. “Pada dasarnya, makanan khas Solo memiliki citarasa yang variatif, termasuk gurih. Namun, rasa manis lebih mendominasi,” ungkap William Wongso, pakar kuliner makanan Nusantara. Hanya saja, yang masih terlihat sangat dominan dan menjadi ciri khas makanan Solo adalah adanya penggunaan santan dan gula jawa, serta aneka bumbu lain seperti daun salam, dan serai. Banyaknya desa-desa di kota Solo membuat citarasa dan jenis makanan tradisional semakin variatif.

Akulturasi Budaya.

Variasi rasa masakan khas Solo rupanya juga dipengaruhi oleh sentuhan kuliner Belanda. Salah satu makanan khas Solo yang juga mendapatkan sentuhan kuliner Belanda adalah Bestik Solo. Bestik sendiri merupakan hasil pelafalan lidah pribumi dari bahasa Belanda Biefstuk yaitu masakan yang terbuat dari daging dan sayuran dengan saus sejenis steak. Bestik Jawa merupakan akulturasi masakan Eropa yang disesuaikan dengan lidah lokal. Hasil silang rasa itu telah turun-temurun dan disajikan sebagai menu yang kemudian diklaim sebagai masakan khas Solo.
Salah satu rumah makan yang menyajikan kenikmatan citarasa Bestik Solo adalahWarung Tenda Harjo Bestik di Solo. Menu yang menjadi unggulan di tempat ini adalah Bestik Lidah Sapi. Bestik ini terbuat dari lidah sapi yang dipotong kecil, dan direbus dengan menggunakan kaldu ayam selama 3-4 jam sampai matang. Ketika akan disajikan, Bestik Lidah ini pun disajikan dengan siraman saus yang mirip dengan Brown Sauce.

Jenis makanan lain yang juga menjadi makanan khas kota bengawan ini adalah Sop Timlo. Sop ini merupakan jenis sop berkuah bening dengan bumbu yang minimalis. Dan uniknya, ke dalam sop ini ditambahkan kecap manis sebagai ‘pewarna’ kuah sop. Beberapa orang mungkin lebih familiar dengan sebutan Kimlo, dan nyaris menyamakan kedua jenis Sop ini. Namun, ternyata kedua jenis sop ini berbeda, meski nyaris mirip. Perbedaan yang paling jelas terlihat pada salah satu bahan isian sop ini. Sop Timlo berisi jamur kuping, wortel, bunga sedap malam, soun, dan irisan sosis solo, dan Sop Kimlo tak berisi Sosis Solo tapi Kekian.
“Timlo adalah versi asli Sop khas Solo, sedangkan Kimlo sudah ada campuran aliran Chinese,” tambah William. Jika kebetulan bertandang ke Kota Solo, maka cobalah mampir ke Timlo Sastro di Pasar Gede. Semangkok Timlo Solo yang bening terasa sangat nikmat dengan aneka isian jamur dan wortel yang renyah. Harumnya bunga sedap malam, rupanya menebar aroma tersendiri dalam kuah Timlo ini sedikit berbeda dari Timlo lainnya karena tak menggunakan soun sebagai campurannya.
Tengkleng pada versi original Solo merupakan makanan yang tak bersantan, sedangkan Gule menggunakan campuran santan pada kuahnya. “Tengkleng yang asli Solo itu tak bersantan, yang bersantan itu Gule,” beber William.
Penjual Tengkleng yang paling populer di Solo adalah Tengkleng Bu Edi di Pasar Klewer. Tapi untuk bisa menyantap Tengkleng dan makanan lainnya seperti Soto Nggading, Serabi Notosuman, Nasi Liwet, Kimlo, Oseng-Oseng Mercon, Sosis Solo, Selat Solo, Gado-Gado Solo.

Mbah Mo: Kuliner Ndeso yang Melegenda

Kuliner Ndeso yang Melegenda
Sabtu, 22 November 2008 | 10:22 WIB
Oleh Eny Prihtiyani

Jumat (21/11) pagi, Mbah Mo terlihat tergesa-gesa. Hari itu, ia berencana mengunjungi cucunya sehingga tamu yang bertandang ke rumahnya hanya ditemui sebentar. Mengunjungi cucu menjadi kesenangan Mbah Mo di tengah kesibukannya mengelola usaha bakmi yang sudah lakoni sejak 1985. Usaha bakmi Mbah Mo (70) awalnya dibangun oleh sang suami, almarhum Atmo Wiyono.

Pertama kali berjualan, ia hanya memanfaatkan sepetak kios berukuran 1,5 meter x 2 meter di depan rumahnya di Dusun Code, Desa Trirenggo, Bantul. Kini, meskipun lokasinya masih sama, warung Mbah Mo sudah bertambah luas. Dengan keuletan, usaha mereka cepat dikenal masyarakat. Dari mulut ke mulut, akhirnya banyak orang tahu kelezatan bakmi Mbah Mo.

Tak heran, meskipun terletak di tengah dusun, warungnya tak pernah sepi pengunjung. Saya juga tidak berniat memindahkan lokasi warung ke depan dekat jalan raya, ungkapnya. Alasan Mbah Mo mempertahankan lokasi warung di tengah dusun adalah suasana ndeso yang bisa membuat suasana makan tambah enak. Kalau ke sini orang harus masuk ke dusun-dusun sehingga bisa sekalian menikmati pemandangan dusun, katanya. Ada dua jenis bakmi yang dijual, yakni goreng dan godok. Harganya Rp 10.000 untuk biasa dan Rp 16.000 buat istimewa.

Bedanya, untuk menu istimewa, pengunjung bisa mendapatkan tambahan daging ayam. Tinggal pilih, mau sayap, kepala, atau bagian lainnya. Mbah Mo menjajakan bakmi pukul 17.00-23.00. Rata-rata ia bisa menjual 200 porsi dalam sehari. Jumlah mi yang dihabiskan dalam sehari mencapai 10 kilogram untuk mi kuning dan 5 kg mi putih. Untuk ayam, Mbah Mo memilih ayam kampung karena rasanya lebih enak. Dalam sehari, ia menyembelih 9-10 ekor ayam untuk campuran mi. Untuk memasak, Mbah Mo tidak memakai kompor melainkan arang.

Ia juga tidak menggunakan kipas angin tetapi kipas biasa. Mempertahankan keaslian tradisi ndeso, lagi-lagi, menjadi alasannya menggunakan kipas biasa. Ada tiga tungku yang ia persiapkan. Tujuannya adalah menghindari antrean memasak. Urusan memasak, Mbah Mo dibantu oleh para kerabatnya. Urusan bumbu, semuanya ia tangani sendiri. Kalau yang meracik bumbu bukan simbah rasanya bisa lain. Makanya, urusan bumbu tidak diserahkan ke orang lain, kata Mirawati, keponakan Mbah Mo.

Usaha bakmi Mbah Mo dijalankan bersama dengan para kerabatnya. Selain kerabat, Mbah Mo dibantu seorang kawannya, Mbah Niti (70). Mbah Niti-lah yang mengurusi soal minuman. Ia yang membakar jahe lalu membuat ramuan teh jahe bagi para pengunjung. Tiap pagi, Mbah Mo biasanya memulai aktivitas dengan menyembelih ayam. Ia kemudian meracik bumbu dan mempersiapkan keperluan lainnya hingga sore hari.

Menurut Mirawati, meskipun omzetnya sudah lumayan tinggi, yakni sekitar Rp 2,5 juta per hari, Mbah Mo masih menggunakan sistem manajemen tradisional. Ia tak pernah membuat catatan berapa jumlah uang masuk dan uang keluar. Ketika warung sudah tutup, simbah langsung menghitung uang yang diperoleh hari itu. Ia kemudian membagi-baginya untuk keperluan belanja bahan baku, honor, termasuk uang yang disisihkan. Jadi, semuanya tergantung banyaknya uang yang diperoleh.

Untuk honor, simbah juga memberinya dengan sistem harian, ujar Mirawati, yang rata-rata memperoleh honor Rp 25.000 per hari. Di tengah kesuksesannya, banyak pelaku bisnis yang ingin menjalin kerja sama dengan Mbah Mo. Namun, semuanya ditolak karena Mbah Mo tetap ingin menjalankannya secara tradisional tanpa terjebak iming- iming untung besar. Sikap Mbah Mo ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya….

http://cetak. kompas.com/read/xml/2008/ 11/22/10225072/kuliner.ndeso.yang.melegenda

Sego Abang Jirak Gunung Kidul

Sego Abang Jirak Gunung Kidul
Mawar Kusuma

Bagi kebanyakan kita, tiada hari terlewatkan tanpa mengonsumsi nasi putih. Keanekaragaman rasa makanan hanya tercipta dari variasi lauk pendamping nasi.

Warung Makan Sego Abang Jirak yang terletak di samping Jembatan Jirak, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, menyajikan nasi merah sebagai menu khas utama.

Sego abang atau nasi merah merupakan hasil produk pertanian di ladang tadah hujan. Di wilayah Gunung Kidul dengan curah hujan rendah dan jenis tanah berbatu, hanya padi tadah hujan yang sanggup tumbuh subur. Sebagian dari jenis padi tadah hujan tersebut menyajikan nasi berwarna merah dengan cita rasa unik, yaitu tidak lembek dan gurih.

Saat ini, beras merah memang sudah jamak beredar di pasaran. Di Warung Makan Sego Abang Jirak, nasi merah bukan sekadar sajian dari beras merah. Pemilik warung, Purwanto (62), mengaku benar-benar menjaga nilai tradisional sego abang, mulai dari cara pemetikan padi, pengolahan menjadi beras, hingga penyajian di atas meja.

Purwanto telah menjalin kerja sama dengan petani penanam padi tadah hujan jenis gogo, mendel, atau segreng yang ketiganya menghasilkan padi berwarna merah. Umur tanam padi jenis tersebut serupa dengan padi sawah, tetapi dengan produktivitas lebih rendah.

Pemanenan padi sengaja dilakukan helai per helai dengan pemotongan batang padi menggunakan ani-ani. Warung Makan Sego Abang Jirak hanya menerima buliran padi yang belum terpisah dari batangnya. Pegawai di warung tersebut kemudian yang memisahkan beras merah dari sekam dengan cara menumbuk.

Padi yang ditumbuk jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya beras merah yang akan dimasak. Memasak beras merah pun harus menggunakan tungku tanah liat memakai kayu bakar. Beras harus diaru sebelum kemudian ditanak menggunakan kukusan dari anyaman bambu (soblok). Cara memasak tersebut membuat rasa nasi lebih gurih dan lunak, tetapi tidak lembek.

Berbeda dengan nasi putih yang matang hanya dalam setengah jam, nasi merah baru siap dihidangkan setelah dimasak selama tiga per empat jam. Nasi merah mulai siap dinikmati pengunjung dari pukul 08.00-15.00. Tingginya minat pengunjung menyebabkan warung selalu buka tujuh hari dalam sepekan, kecuali jika ada acara hajatan keluarga.

Sayur lombok ”ijo”

Dalam satu hari, menurut anak perempuan Purwanto, Parmi, mereka memasak nasi merah dua kali, yaitu pagi dan tengah hari. Selain sego abang, pengunjung di warung tersebut juga tak bakal sanggup melupakan kenikmatan sayur lombok ijo sebagai pendamping nasi.

Sayur lombok ijo yang kaya kuah santan ini diracik dari potongan cabai hijau yang dipadukan dengan tempe kedelai. Tumisan tempe yang digunakan sebagai pelengkap sayur pun bukan tempe sembarangan. Tempe tersebut harus dibuat dengan cara tradisional dan dibungkus daun pisang atau daun jati.

Kuah santan dengan racikan bumbu berupa bawang merah, bawang putih, jahe, dan kemiri ini menghadirkan rasa gurih bercampur pedas. Pengunjung yang ingin menambah rasa pedas sayur bisa menambah pesanan berupa sambal terasi serta sambal bawang.

Selain sayur lombok ijo, juga tersedia lauk lain untuk pendamping, seperti daging sapi goreng, iso babat goreng, ikan wader goreng, dan urap trancam. Sebagai buah tangan, Warung Makan Sego Abang Jirak juga menyediakan aneka camilan khas Gunung Kidul, seperti kacang mede serta belalang goreng.

Tak hanya menu makanannya yang khas, suasana di dalam warung pun mempertahankan suasana khas pedesaan. Tembok warung masih berupa dinding anyaman bambu. Pengunjung pun bisa memilih duduk di kursi maupun lesehan di atas balai-balai kayu yang dilambari alas tikar pandan. Seluruh menu makanan disajikan dalam piring-piring terpisah, seperti layaknya di rumah makan nasi padang.

Untuk seluruh kenyamanan dan kenikmatan yang diraih memang ada harga setimpal yang harus dibayar. Parmi mengaku tetap mempertahankan gaya penyajian warung yang tidak mencantumkan menu serta daftar harga. Biasanya pengunjung baru tahu harga makanan ketika membayar di kasir.

Satu porsi sego abang hanya dijual seharga Rp 2.000 dan sayur lombok hijau Rp 3.000. Sementara, satu piring daging sapi dihargai Rp 40.000, satu piring iso babat Rp 20.000, satu piring ikan wader Rp 15.000, dan Rp 2.500 untuk sepiring urap trancam.

Setelah menikmati sajian sego abang dan sayur lombok ijo di Gunung Kidul, beberapa pengunjung mengaku sering kali ketagihan. Untuk menikmati suasana yang lebih tenang dan sepi, sebaiknya tidak berkunjung ketika jam makan siang, akhir pekan, apalagi hari Lebaran. Warung akan penuh sesak. Kerinduan akan tradisi memang selalu menggairahkan untuk dinikmati, seperti sego abang dari Gunung Kidul….

http://cetak. kompas.com/ read/xml/2009/ 04/12/03223898/sego.abang. jirak.gunung. kidul

My Facebook:
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia