Rasa ingin bertemu dengan Siswanto membuat saya mendatangi rumah dan sekaligus tempat kerjanya di Ruko Bayeman, Yogyakarta tanggal 16 Desember 2009 yang lalu.
Lama sekali kami tidak bertemu. Setelah lulus di tahun 1980, sesekali saya masih menemuinya di rumahnya ketika itu di Pojok Beteng Wetan. Tetapi setelah selesai kuliah di Yogya tahun 1988, saya tidak pernah bertemu dengannya lagi karena saya pindah ke Ambon. Ketika ada kesempatan saya datang ke rumahnya di Pojok Beteng Wetan, yang saya dapatkan adalah bahwa Siswanto telah pindah ke Bayeman.
Kesempatan bertemu Siswanto terbuka sejak saya tinggal di Bandung tahun 1996-1999, dan kemudian pindah ke Jakarta tahun 1999 sampai sekarang. Beberapa kali saya mencoba menemuinya di rumah dan sekalian bengkel kerjanya di Bayeman. Tetapi setelah sampai di depan rumahnya, saya selalu mengurungkan niat saya itu setelah melihat dia sibuk melayani pelanggannya. Ah, iya….., perlu saya jelaskan bahwa Siswanto bersama abangnya melanjutkan usaha orang tuanya membuka bengkel khusus servis dinamo. Akhirnya, pada tanggal 16 Desember 2009 yang lalu itu, ketika saya benar-benar punya waktu luang, saya datang ke rumah ya di sore hari menjelang tutup bengkel kerjanya. Setelah tidak ada lagi pelanggan yang dilayaninya, ketika itulah kami bertemu dan ngobrol.
Siswanto adalah orang yang periang, meskipun selalu serius. Ada tiga hal yang membuat saya selalu teringat padanya.
Pertama, saya dan siswanto adalah sama-sama anggota kelompok pejalan kaki yang ketika liburan semesteran ketika masih di SMA dahulu, berjalan kaki dari Yogyakarta sampai ke Tegal dan Bumi Jawa di lereng Gunung Slamet. Ketika itu kami berlima sepekat berjalan dri Yogya ke Tegal. Tiga anggota yang lain adalah Aris (Priyo Putranto (?) dahulu tinggal di Penembahan), Muhammad Jazim (kata Siswanto sekarang menjadi dokter di Blora), dan Koes (maaf saya lupa mananya, dahulu tinggal di Danurejan). Ketika itu, kenderanaan di jalan raya belum terlalu banyak. Alas Roban masih seram dan banyak monyetnya. Karena takut hari menjelang senja, dan ada teman yang sakit (Koes ?), maka kami tidak berjalan melintasi Alas Roban melainkan naik bis antar kota sampai Pekalongan. Di Tegal, kami menginap di rumah Mas Pras (Tri Prasojo, kenalan keluarga Aris yang sangat akrab) di Jalan Serayu 3 Tegal. Ketiga itu Mas Pras sekolah di SMA Pius Tegal dan kemudian melanjutka sekolah ke Bandung.
Ke-dua. Saya berdua dengan Siswanto sering malakukan pendakian kecil ke Pelawangan, Kaliurang di lereng Gunung Merapi, di hari minggu, paling tidak sebulan sekali. Saya dan Siswanto tidak punya prestasi olahraga apapun yang dapat dibanggakan. Yang kami punya adalah kesukaan berjalan kaki.
Ke-tiga. Saya dan Siswanto melakukan perjalanan ke Baturaden, Purwokerto. Ketika itu kami memanfaatkan libur 17 Agustus yang jatuh pada hari senin. Kami ke Purwokerto dengan kereta api. Sebelum ke Baturaden, kami bermalam di rumah seorang sahabat pena di daerah Mersi, Purwokerto. Kami sempat mengunjungi pancuran air hangat dan kolam yang dikelilingi taman bunga yang keduanya saya lupa namanya. Kembali ke Yogya dari Purwokerto ketika itu tidak mudah. Kereka api masih jarang, belum banyak seperti sekarang. Karena tidak mendapat kereta, kami sempat menggelandang di stasiun Purwokerto menunggu kereta semalaman.
Ketiga hal itulah yang sangat kuat dalam ingatan saya bersama Siswanto. Semua kenangan itu seperti filem yang diputar kembali di sore itu ketika saya menemui Siswanto pada 16 Desember 2009.
Demikian sekelumit kenangan masa lalu ketika masih di SMA.
Salam dari Ancol
Wahyu Budi Setyawan