Ditulis oleh namce8081 di/pada Maret 31, 2009
Kamis, 26 Maret 2009 | 16:44 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu
JAKARTA, KOMPAS.com – Kreativitas pembelajaran Matematika yang mudah dan menyenangkan perlu terus dikembangkan. Karena itu, Matematika mesti diajarkan secara menarik dan terhubung dengan dunia nyata sehingga siswa senang.
“Belajar Matematika itu bukan sekedar mengajarkan anak tahu berhitung dan mengasah logika anak. Tetapi Matematika itu juga bisa dimanfaatkan untuk mengasah kreativitas otak yang dibutuhkan seseorang untuk berhasil dalam hidup,” ujar Stephanus Ivan Goenawan, pengajar di Universitas Atmatajaya Jakarta, Kamis (26/3), di Jakarta.
Ivan menciptakan konsep pembelajaran Matematika yang dinamakannya metode horisontal. Metode horisontal ini merupakan metode perhitungan di mana proses penyelesaian dilakukan secara mendatar (horisontal) dari arah kanan menuju ke kiri. Bilangan desimal biasa dikonversi dengan notasi pagar (I).
Upaya untuk mengenalkan konsep pembelajaran matematika dengan cara tidak konvensional yang selama ini menggunakan metode vertikal dilakukan dengan menggelar olimpiade kreativitas angka yang diikuti siswa SD hingga perguruan tinggi. Menurut Ivan, cara ini untuk mengembangkan kreativitas seseorang karena potensi kreativitas dapat diasah melalui angka dengan cara mengenali keteraturan polanya.
“Bila daya kreativitas angka meningkat maka daya ini dapat berimbas ke jenis kreativitas yang lain, seperti pada pelajaran sekolah, seni, strategi atau intuisi bisnis atau ilmu pengetahuan, ” ujar Ivan.
Pengembangan metode belajar Matematika untuk membantu proses penghitungan yang cepat sehingga membuat anak tertarik belajar Matematika juga sebelumnya dilakukan Septi Peni Wulandani dengan metode jaritmatika. Penghitungan dilakukan dengan memanfaatkan tangan kanan yang diibaratkan tangan satuan dan tangan kiri sebagai tangan puluhan.
S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, mengatakan untuk menciptakan pembelajaran Matematika yang selama ini dianggap masih momok buat siswa sehingga menjadi menyenangkan, perlu kreativitas guru tersebut. Guru bisa saja memanfaatkan metode pembelajaran Matematika yang berkembang di luar kelas jika memang bisa membantu terciptanya belajar matematiak yang menyenangkan.
“Apalagi jika metode belajar Matematika yang inovatif itu hasil pemikiran anak bangsa, kenapa tidak untuk juga bisa diperkenalkan sebagai salah satu metode belajar. Yang penting, anak-anak paham konsep belajar MAtematika dan bisa menggunakannya untuk kehidupan,” kata Hamid.
Ditulis dalam PENDIDIKAN, Pembelajaran | Bertanda: matematika, Pembelajaran | Leave a Comment »
Ditulis oleh namce8081 di/pada Mei 18, 2008
Naskah ini aslinya adalah materi presentasi dalam bentok power point.
Oleh: Patricia Prinz
Cyprus Summer Institute, 18-27 Juni 2007
Terjemahan oleh Wahyu Budi Setyawan
===============================================
Empat aspek pengajaran:
- Mengajar: strategi mengembangkan isi, penyajian informasi, membimbing aktifitas, mengevaluasi pembelajaran.
- Manajemen: aturan-aturan dan proses-proses mempertahankan suatu kelas yang produktif dan tertib.
- Pengharapan: kepercayaan bahwa guru menentukan masa depan sukses murid-murid.
- Motivasi: proses memunculkan, melanjutkan, dan mengarahkan aktifitas yang mengarah ke pembelajaran.
Apa peranan guru?
Menentukan jalan untuk memotivasi murid-murid adalah:
- Tanggungjawab guru,
- Bagian dari proses pengajaran.
Guru-guru harus mengetahui dan merencanakan aspek-aspek motivasional dari pengajaran.
Motivasi belajar
Para murid cenderung:
- (Berusaha) mendapatkan aktifitas-aktifitas akademik yang penuh arti dan bermanfaat,
- Mencoba mendapatkan keuntungan yang dijanjikan,
- Bersedia hadir di dalam kelas dimana aktifitas pembelajaran berlangsung,
- Mencari alasan-alasan belajar.
Hal-hal yang berkaitan dengan diri murid:
- Tujuan,
- Pengetahuan bagaimana mencapai tujuan-tujuan,
- Standar-standar pribadi,
- Keyakinan tentang kemampuan dan emosi mereka,
- Minat,
- Nilai-nilai (values),
- Kesediaan mengikuti proses belajar.
Kemauan belajar
Murid-murid yang mau belajar:
- Aktif,
- Perhatian,
- Ingin tahun,
- Mau berpartisipasi.
Perspektif sosiokultural tentang motivasi
Memandang motivasi melalui:
- Keterkaitan – manusia-tugas-konteks,
- Emosi,
- Pengaruh-pengaruh kognitif.
Hubungan sosial
Para murid memiliki:
- Tujuan-tujuan akademik,
- Tujuan-tujuan sosial.
Motivasi ekstrinsik
- Pengaruh-pengaruh dari luar,
- Kompetisi,
- Nilai tugas.
Murid-murid yang termotivasi secara ekstrinsik
Belajar dalam rangka untuk:
- Mendapatkan pujian,
- Memperoleh keuntungan,
- Menghindari hukuman.
Motivasi instrinsik
- Dari dalam diri,
- Mau belajar dengan rasa ingin tahu, minat, atau kesenangan, atau untuk mencapai tujuan-tujuan intelektual dan pribadi.
Murid-murid yang termotivasi secara instrinsik
- Tidak memerlukan imbalan untuk memulai dan menyelesaikan,
- Mencari kompetensi atau kemampuan,
- Didorong oleh tantangan untuk belajar.
Gagasan yang terkait motivasi
- Tujuan-tujuan
- Pengetahuan
- Proses-proses metacognitif
Tujuan
Berkaitan dengan mengapa – keinginan personal:
- Cognitif – representasi mental dan kondisi masa depan.
- Individual
- Kompetitif
- ko-operatif.
Pengetahuan
- Bagaimana melakukan sesuatu,
- Strategi-strategi untuk mencapai tujuan
Proses-proses Metacognitif
- Cognisi – proses mental
- Metacognisi:
- Kepedulian terhadap proses mental
- Pemahaman, monitoring, dan mengevaluasi proses-proses mental.
Metacognisi
Regulasi diri:
- Kapasitas untuk (sesuatu)
- Pengaturan dan Perencanaan untuk (sesuatu)
- Pembelajaran
- Monitor Pembelajaran
- Mengatur dan Mengkoordinasi strategi yang dipergunakan
- Mengevaluasi strategi yang dipergunakan.
Keperdulian diri:
- Pengetahuan tentang (sesuatu)
- Diri sendiri sebagai pembelajar
- Strategi-strategi yang diperguakan dalam pembelajaran
- Sifat tugas-tugas pembelajaran
Aspek-aspek Metacognisi
- Mengontrol kepercayaan – murid dapat mengontrol hasil/outcome melalui usaha,
- Kemampuan diri sendiri – percaya kemampuan untuk berhasil dalam tugas,
- Memonitoring kemajuan – kesadaran bahwa proses pembelajaran penuh keberhasilan,
- Menghargai tindakan – keyakinan bahwa murid dapat mengontrol hasil,
- Menghargai hasil – kepercayaan murid-murid tentang pencapaian tujuan dan evaluasi sesudahnya.
Peningkatan Motivasi
- kemauan dan respon murid yang aktif,
- Interaksi kelompok,
- Tujuan-tujuan tingkat tinggi,
- Jelas tujuan, tugas dan produk,
- Membuat pijakan untuk menjamin sukses,
- Aktifitas seperti game,
- Umpan balik yang informatif.
Murid termotivasi bila:
Tujuan jelas:
- Aktifitas disepakati,
- Memahami bagaimana mencapai tujuan,
- Mempercayai adanya kesempatan yang logis untuk mencapai tujuan,
- Mempercayai dapat mengontrol pembelajaran (upaya vs kemampuan).
Guru memotivasi murid bila:
- Menetapkan tujuan yang terjangkau, spesifik, menantang, disetujui,
- Mengajarkan strategi untuk mencapai tujuan,
- Memberi umpan balik yang terus menerus dan informatif,
- Memberi pijakan untuk menjamin hasil-hasil yang sukses.
(Selesai)
Ditulis dalam Motivasi Belajar, Pembelajaran | Bertanda: Guru, Motivasi, Murid, Pembelajaran | Leave a Comment »